Yayasan Brengkos resmi diluncurkan di Rahmah Swimming Pool, Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi, Minggu (13/9/2026). Yayasan ini dibentuk sebagai wadah silaturahmi, pemberdayaan pemuda serta pelestarian budaya Bekasi. Brengkos sebelumnya merupakan jaringan relawan pendukung Heri Koswara pada Pilkada 2024 yang dikenal sebagai Barisan Relawan Bang Heri Koswara.
Dewan Pembina Yayasan Brengkos, Heri Koswara, mengatakan keberadaan yayasan diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat hubungan antaranggota sekaligus melahirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Yang penting sekarang kita perkuat barisan, kita perkokoh dan kuatkan silaturahmi. Mudah-mudahan ini menjadi tempat kita melahirkan kebaikan-kebaikan untuk membangun Kota Bekasi,” kata Heri dikutip bekasiguide.com, Minggu 13 September 2026.
Ia menjelaskan, Yayasan Brengkos akan dilengkapi struktur organisasi dan aturan kelembagaan agar dapat menjalankan program secara lebih terarah. Berbagai kegiatan nantinya disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
Heri juga mendorong anggota Brengkos untuk tetap terbuka dalam membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak selama bertujuan untuk kegiatan positif.
“Silakan berkomunikasi dan mencari peluang dengan berbagai pihak. Kita punya satu rumah bersama, yaitu Brengkos, untuk saling menguatkan,” ujarnya.
Menurut Heri, program yang dijalankan tidak perlu dibuat terlalu besar. Hal terpenting adalah kegiatan tersebut dapat direalisasikan dan memberikan manfaat nyata.
“Programnya jangan muluk-muluk, yang ringan-ringan saja. Jangan banyak-banyak juga. Yang penting terlaksana. Itu program yang terbaik, terlaksana dan ada outputnya,” katanya.
Pengurus Harian Brengkos, Bang Engkam, mengatakan yayasan tersebut lahir dari kepedulian terhadap generasi muda Kota Bekasi yang dinilai perlu semakin mengenal dan menjaga identitas budaya daerah.
“Awal Brengkos berdiri karena kita melihat pemuda di Kota Bekasi pada umumnya kehilangan arah dalam segi budaya. Bukan hanya acara seremonial, tetapi bagaimana identitas orang Bekasi itu sendiri bisa dimunculkan,” ujarnya.
Brengkos, kata dia, akan berkolaborasi dengan karang taruna di seluruh Kota Bekasi untuk membumikan budaya lokal.
“Dengan adanya Yayasan Brengkos, semoga bisa memunculkan identitas Bekasi ke depan. Aspek budaya Bekasi menjadi sangat penting di tengah arus informasi saat ini,” katanya.
Pembina Brengkos, Latu Har Hary, mengatakan pembentukan yayasan menjadi langkah untuk menjaga keberlanjutan kebersamaan yang telah terbangun selama ini.
“Kita sepakat untuk membangun organisasi atau yayasan. Kita buat format dan rencana kerja, kemudian anggarannya untuk menjalankan program,” kata Latu.
Ia berharap keberadaan Brengkos tidak hanya berkembang di Jatiasih, tetapi dapat menjangkau seluruh wilayah Kota Bekasi melalui berbagai kegiatan budaya dan pemberdayaan masyarakat.
“Mudah-mudahan Brengkos ke depan bukan hanya dikenal di Jatiasih saja, tetapi di seluruh kecamatan di Kota Bekasi,” ujar pria yang saat ini menjabat Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi.
Sementara itu, Bang Ilok mengatakan Brengkos akan fokus bergerak di bidang budaya. Menurutnya, pelestarian budaya Bekasi harus dilakukan oleh masyarakatnya sendiri agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Yang bisa melestarikan budaya Bekasi kalau bukan kita, siapa lagi. Sebagai orang Bekasi asli, tugas kita menjaga dan melestarikan budaya Bekasi. Semoga kita semakin solid ke depannya bersama Brengkos,” katanya.
Dalam peluncuran tersebut, struktur Yayasan Brengkos turut diperkenalkan. Heri Koswara, Latu Har Hary, Kyai Amien Idris dan Bang Ilok menjadi Dewan Pembina. Dewan Pengawas diisi Dr. Abdul Khoir HS, Ustaz Anwar Anshori dan Mang H. Jabbar.
Kepengurusan harian terdiri dari Bang Engkam sebagai ketua, Abd Azis sebagai sekretaris dan Bang Dayat sebagai bendahara. Struktur yayasan juga dilengkapi bidang perlengkapan, media serta koordinator wilayah di sejumlah kecamatan di Kota Bekasi.
Heri kembali menegaskan kelengkapan struktur organisasi diperlukan agar Yayasan Brengkos dapat menjalankan berbagai program secara terarah.
“Namanya yayasan harus lengkap kepengurusannya,” kata Heri.
