Di saat akses air bersih menjadi hal yang mudah bagi sebagian masyarakat, kondisi berbeda justru dirasakan sejumlah warga di Desa Karang Asih Cikarang Utara. Mereka terpaksa menggunakan air kali untuk aktivitas sehari-hari. Keterbatasan ekonomi dan tidak adanya akses saluran air bersih membuat warga tidak memiliki banyak pilihan.
Nur Hayati (45), salah seorang warga yang telah tinggal di kawasan tersebut selama 23 tahun, mengaku dirinya dan warga sekitar sejak lama menggantungkan kebutuhan rumah tangga menggunakan air kali. Air tersebut digunakan untuk mencuci, mandi hingga mengambil air untuk berwudu.
“Kadang sedih, airnya bau, dipakai mandi juga suka gatal. Tapi mau bagaimana lagi, terpaksa. Kalau beli air kan mahal,” ujar Nur saat ditemui di lokasi, Jumat 22 Mei 2026.
Menurut Nur, warga sebenarnya ingin mendapatkan akses air bersih. Namun karena permukiman berdiri di atas lahan milik pemerintah, saluran air bersih disebut tidak dapat dipasang di kawasan tersebut. Untuk kebutuhan minum dan memasak, warga hanya membeli air galon sesuai kemampuan.
Selain kondisi air yang kotor dan terkadang berbau, Nur juga mengaku sejumlah warga merasakan dampak kesehatan. Keluhan seperti gatal-gatal hingga gangguan pencernaan pada anak-anak disebut kerap terjadi saat kondisi air memburuk.
“Kadang anak-anak suka diare dan muntah. Kalau airnya hitam juga suka gatal-gatal,” katanya.
Di sisi lain, warga juga dihantui ketidakpastian terkait rencana penggusuran di kawasan tersebut. Nur mengaku belum mengetahui ke mana akan pindah apabila tempat tinggalnya nanti benar-benar ditertibkan.
“Saya lahir di sini. Mau pindah juga belum tahu ke mana, ngontrak mahal,” ucapnya.
Warga berharap adanya perhatian dari pemerintah, terutama terkait penyediaan akses air bersih agar mereka tidak terus bergantung pada air kali yang kondisi kebersihannya tidak menentu.
