Kenaikan nilai tukar dolar disebut mulai berdampak pada pelaku usaha kecil, termasuk produsen tempe di Margahayu Bekasi Timur. Ketergantungan terhadap bahan baku kedelai impor membuat biaya produksi ikut meningkat dan menekan pelaku usaha rumahan.
Mukapsah, produsen tempe yang telah menjalankan usaha keluarganya selama puluhan tahun, mengatakan kenaikan harga kedelai menjadi salah satu tantangan yang saat ini dihadapi. Menurutnya, sebagian besar bahan baku yang digunakan masih berasal dari impor.
“Ya berpengaruh. Terutama kedelainya itu mahal, karena pakainya impor. Kalau lokal nggak bisa,” ujar Mukapsah dikutip Bekasiguide.com, Kamis 21 Mei 2026.
Tak hanya kedelai, kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik kemasan juga turut menambah beban produksi. Meski demikian, ia mengaku tetap berusaha mempertahankan usahanya agar produksi tetap berjalan.
Setiap hari, usaha tersebut menghabiskan sekitar satu kuintal kedelai untuk proses produksi. Untuk mengantisipasi kenaikan biaya, Mukapsah memilih tidak menaikkan harga jual kepada konsumen dan lebih memilih memperkecil ukuran produk.
“Kalau harga dinaikkan biasanya pembeli nggak mau. Jadi paling ukurannya yang diperkecil, harganya tetap,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Mukapsah berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kedelai agar pelaku usaha kecil tetap mampu bertahan.
“Saya minta tolong supaya harga kedelai bisa diturunkan dan lebih stabil supaya rakyat kecil tetap bisa berjalan usahanya,” tutupnya.
