Esai

Haji Sekali, Maka Harus Mabrur

Chotim Wibowo (IPHI Kota Bekasi).

SETIAP mendengar khabar tentang haji, selalu saja menggetarkan hati. Ya nggak? Kemarin ada temen yang mengabarkan baru saja pelunasan ONH di hari akhir pelunasan. Alhamdulillah. Ikut merasakan senang, dan haru.

Haji saat ini memang beda dibanding tahun-tahun lalu. Apalagi di era 2000-an. Yang sepertinya mudah. Asal ada uang, bisa berangkat. Tapi sekarang tidak.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Haji saat ini juga spesial. Bukan hanya prediksi akan menjadi Haji Akbar, tetapi lebih kepada ‘perjuangan’ yang ekstra luar biasa. Perjuangan lahiriyah, dan pasti batiniyah.

Bagaimana tidak? Saat ini penantian atau daftar tunggu bisa mencapai 30an tahun. Tergantung daerah. Kalau kita daftar sekarang, tiga puluh tahun lagi bisa berangkat. Itu pun, kalau saatnya kita punya uang untuk pelunasannya. Kalau tidak punya, yang kemungkinan ditunda lagi.

Saat ini, di Kota Bekasi, yang berangkat, ‘angkatan pendaftaran’ tahun 2012 – 2013an. Jika saat itu sudah menabung pendaftaran porsi Rp25 juta, masih harus menambah pelunasan Rp34 jutaan. Itu jika sendiri. Kalau berdua dengan istri atau suami, ya nambahnya sekitar Rp68 juta harus siyap.

“Makin jauh saja ya saya bisa ke ‘sana,” kata temen saya pekerja biasa yang pingin bisa haji tapi belum mendaftar.  “Tapi, Allah Maha Kaya,” katanya menghibur diri.

Dan memang, pesan penting bagi calon haji saat ini, hanyalah satu; yakni haji saya harus mabrur.

Seorang teman mengirim clue penting. Haji Sekali, maka harus mabrur. Dan mabrur itu tidak bisa dicapai kecuali dengan tiga hal. “Toto Atimu, Toto Awakmu, lan Toto Pikiranmu”_ (menata hati, menata badan (kesehatan) dan menata pikiran). Tiga hal itu “ojo dilirwakke”, jangan dilalaikan. Karena, haji sekali harus mabrur.

Temen senior di Bekasi menambahkan, Haji Mabrur Sepanjang Hayat. Seperti dalam tagline Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia.

Inilah kondisi haji kita saat ini. Kesempatan berhaji saat ini adalah haji sekali. Tak bisa -baca sulit, untuk diulang. Paling juga hanya bisa umroh, itupun kalau punya uang banyak.

Apa pun, selamat pada calon haji. Persiapan diri itu melebihi semuanya demi menggapai haji yang mabrur. Pasti semua juga sudah diterima dalam setiap manasik yang diikuti. Tinggal praktiknya semoga diberi kemudahan.

Oleh: Chotim Wibowo (IPHI Kota Bekasi)

Esai

Karena itu, pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan banjir dan longsor belakangan ini sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi bumi dan alam. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, dan mungkin kedepan muncul prahara kekeringan.

Esai

Seluruh aktivitas nyaris mati gaya, dan warga yang tajir melintir maupun yang melarat “keciprat,” merasakan derita yang sama; tak berdaya seraya berdoa dan berharap hujan segera

Esai

Kita juga perlu mengatasi “Viral Culture” dalam politik, sebab krisis moral demokrasi juga disebabkan oleh budaya politik yang hanya mengejar viralitas, bukan substansi.

Esai

Folder harus mencerminkan semangat kolaborasi, bukan kompetisi tidak sehat. UMKM besar maupun UMKM pemula harus memiliki kesempatan yang sama untuk tampil. Jika ruang hanya diberikan kepada mereka yang “punya akses”, maka folder tidak lagi menjadi ruang publik melainkan ruang komersial milik sekelompok orang.

Esai

Pemanfaatan folder sebagai ruang wisata, olahraga, dan UMKM memiliki banyak peluang, namun juga memiliki risiko. Karena itu, setiap langkah harus disusun melalui kajian detail: keamanan, ketertiban, dampak lingkungan, manajemen keramaian, hingga regulasi pemanfaatan UMKM agar tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Exit mobile version