Esai

Tuan Kuan Lee di Musorkot KONI Kota Bekasi

Ada hal menarik untuk dicermati atas kemufakatan para peserta (pengurus cabang olahraga pemilik hak suara) yang menyetujui Plt Wali Kota Bekasi Tri Adhianto sebagai Ketua Umum KONI Kota Bekasi periode 2023-2027 dalam Musyawarah Olahraga KONI Kota (Musorkot) Bekasi, Rabu 22 Februari 2023.

Kemufakatan itu terjadi, setelah beberapa menit sebelumnya diadakan musyawarah terbatas di ruang terpisah antara dua kandidat yakni, Plt Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan Dr. Ekowati yang dibersamai mantan Ketua Umum KONI Kota Bekasi, Abdul Rosyad Iwan.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Pertemuan tersebut berlangsung sekitar 30 menit. Untuk kemudian Tri Adhianto dan Ekowati kembali ke ruang utama Musorkot. Sejurus kemudian, Tri Adhianto mengumumkan kepada para peserta Musorkot bahwa antara dirinya dengan Ekowati telah mufakat untuk membangun KONI Kota Bekasi kedepan secara bersama-sama dengan ia sebagai ketua umum.

Dahsyatnya tak ada histeria berlebihan, pun tak ada banding atau penolakan atas kemufakatan tersebut. Semua setuju dengan takzim, dan dengan lancar-lancar saja, acara Musorkot dilanjutkan hingga usai.

Ini tentu menarik, karena sebagaimana lazimnya kontestasi, pada situasi sebelumnya, terutama saat babak pendaftaran calon hingga fase verifikasi, situasinya sempat menghangat, meski tidak sampai membara.

Sebagaimana lazimnya dalam sebuah organisasi, termasuk KONI, persaingan yang ketat menjadi ketua umum acapkali terjadi, bahkan di beberapa daerah berlarut menjadi konflik yang berkepanjangan. Tapi itu tidak terjadi di Kota Bekasi. Ini berarti, di Kota Bekasi, khususnya dalam konteks KONI, selain kedua kandidat pada hakekatnya punya target goal yang sama–yang bukan kepentingan dirinya semata, maka tentu ada sosok yang mampu mengaplikasikan manajemen konflik, atau dalam bahasa china lazim disebut kuan lee secara akurat.

Kemampuan manajemen konflik inilah yang kemudian mengatur dan mengatasi dengan baik potensi konflik yang bisa saja terjadi jika tidak dikelola. Sosok inilah yang dalam prosesi kontestasi pemilihan Ketua Umum KONI Kota Bekasi, mampu mengeliminasi tiap potensi konflik dan masalah yang tidak perlu terjadi, yang jika tidak cermat dapat merugikan kepentingan pembangunan olahraga Kota Bekasi.

Kuan Lee memang harus dilakukan agar dapat mengelola potensi konflik dengan baik sehingga tidak menyebabkan hal negatif, antara lain adanya perpecahan, permusuhan, dan persaingan yang tidak sehat. Hal negatif tersebut biasanya juga memicu dampak yang destruktif.

Oleh sebab itu, pada setiap kaum, unity, organisasi, bangsa dan negara, diperlukan sosok-sosok yang dihormati dan memiliki keterampilan manajemen konflik sebagai modal untuk mencegah dan atau mengelola dampak buruk dari terjadinya konflik. Manajemen konflik selanjutnya digunakan sebagai upaya meredakan konflik dan menyatukan kembali berbagai pihak melalui berbagai solusi.

Intinya, kemufakatan dalam Musorkot KONI Kota Bekasi terkait pemilihan Ketua Umum tidak terjadi tiba-tiba, melainkan ada proses yang dikelolah dengan menyusun strategi yang kemudian melibatkan dua pihak yang berkontetasi sehingga mendapatkan resolusi yang diinginkan secara konstruktif, kooperatif dan kolaboratif.

Selamat untuk Pak Tri Adhianto dan Ibu Ekowati. Salut juga untuk Tuan Kuan Lee. Kota Bekasi memang beda dari yang ada.

Oleh: Imam Trikarsohadi ( Dosen/ Wartawan Senior)

Esai

Karena itu, pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan banjir dan longsor belakangan ini sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi bumi dan alam. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, dan mungkin kedepan muncul prahara kekeringan.

Esai

Seluruh aktivitas nyaris mati gaya, dan warga yang tajir melintir maupun yang melarat “keciprat,” merasakan derita yang sama; tak berdaya seraya berdoa dan berharap hujan segera

Esai

Kita juga perlu mengatasi “Viral Culture” dalam politik, sebab krisis moral demokrasi juga disebabkan oleh budaya politik yang hanya mengejar viralitas, bukan substansi.

Esai

Folder harus mencerminkan semangat kolaborasi, bukan kompetisi tidak sehat. UMKM besar maupun UMKM pemula harus memiliki kesempatan yang sama untuk tampil. Jika ruang hanya diberikan kepada mereka yang “punya akses”, maka folder tidak lagi menjadi ruang publik melainkan ruang komersial milik sekelompok orang.

Esai

Pemanfaatan folder sebagai ruang wisata, olahraga, dan UMKM memiliki banyak peluang, namun juga memiliki risiko. Karena itu, setiap langkah harus disusun melalui kajian detail: keamanan, ketertiban, dampak lingkungan, manajemen keramaian, hingga regulasi pemanfaatan UMKM agar tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Exit mobile version