Esai

BERINGIN DI KOTA TRANSIT “Catatan Reflektif Musda Golkar Kota Bekasi 2026”

Kekuasaan di Kota Bekasi acapkali menyerupai debu di sepanjang Jalan Ahmad Yani: ia berhembus cepat, menempel pada dinding-dinding beton pertokoan, lalu berpindah tempat sebelum sempat dicatat oleh sejarah secara menetap. Di kota transit yang terus bersaing dengan deru modernitas dan bayang-bayang megapolitan Jakarta ini, politik lokal jarang tampil polos. Ia adalah gelanggang tempat syahwat kepemimpinan, kalkulasi taktis, dan trauma masa lalu saling bertabrakan. Jelang perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD Partai Golongan Karya (Golkar) Kota Bekasi pada kurun September hingga Oktober 2026, aroma pertarungan politik itu merebak lebih tajam dari biasanya.

Golkar, sebuah partai yang dibangun di atas fondasi teknokrasi dan warisan Orde Baru, kini kembali berdiri di persimpangan jalan. Musda bukan sekadar ritual rutin lima tahunan untuk memilih siapa yang berhak duduk di kursi ketua DPD. Di bumi Patriot, perhelatan ini adalah muara dari intrik faksional, persaingan dinasti, eksistensi modal sosial, serta ujian atas etika politik di tengah godaan pragmatisme elektoral.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Akar Lokal dan Trauma Hegemoni

Ada alegori lama tentang pohon beringin: rimbun daunnya menaungi, namun akarnya yang menjulur dalam kerap mematikan tunas-tunas baru yang mencoba tumbuh di bawahnya. Dalam konstelasi Golkar Kota Bekasi, sosok petahana Ade Puspitasari mewakili alegori tersebut. Sebagai Ketua DPD pimpinan hasil Musda V tahun 2021 sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Daerah Pemilihan 8 (Kota Depok dan Kota Bekasi), Ade bukanlah figur yang mudah digeser. Ia membawa identitas sebagai “bocah Bekasi” – sosok yang berakar secara kultural dan memiliki basis massa riil di tingkat akar rumput.

Namun, akar yang kuat itu tidak berdiri di ruang hampa. Keberadaan Ade tak lepas dari bayang-bayang sejarah politik keluarganya. Bagi faksi-faksi yang berseberangan, keberlanjutan kepemimpinan Ade dipersepsikan sebagai bentuk hegemoni politik lokal yang harus dibatasi. Muncul spekulasi dan tuduhan mengenai adanya gerakan “cawe-cawe” dari lingkar penguasa daerah yang merasa terancam jika Golkar Kota Bekasi tetap berada di bawah kendali petahana menuju Pemilu dan Pilkada 2029.

Pertarungan mengitari Ade Puspitasari memperlihatkan betapa Musda 2026 bukan sekadar panggung internal kader. Ia adalah prolog dari perang perebutan pengaruh kekuasaan Kota Bekasi untuk periode mendatang. Dalam kacamata ini, kekalahan seorang petahana kadang kala diciptakan bukan karena kandidat tersebut mendadak melemah, melainkan karena orkestrasi politik luar yang secara sistematis mendesain agar sang lawan tampak jauh lebih perkasa.

Surat dari Pusat dan Ironi Etika

Jika petahana bersandar pada kekuatan akar rumput lokal, maka Ranny Fahd Arafiq hadir membawa kekuatan jenis lain: legitimasi struktur pusat dan modal elektoral. Anggota DPR RI terpilih periode 2024–2029 ini mencuat setelah secara resmi mengantongi surat persetujuan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar nomor B-1119/DPP/GOLKAR/IX/2026 tertanggal 9 September 2026. Surat diskresi yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Jenderal Muhammad Sarmuji tersebut menegaskan restu pusat bagi Ranny untuk bertarung dalam Musda Kota Bekasi. Dukungan awal dari organisasi pendiri seperti Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) kian memperkuat posisinya di atas kertas.

Namun, politik acapkali menyajikan ironi yang getir. Hanya selang beberapa hari setelah surat restu DPP terbit, sebuah prahara hukum mengguncang. Suami Ranny, Fahd El Fouz (Fahd Arafiq), terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 14 September 2026 atas dugaan korupsi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor. Kejadian ini menyusul rekam jejak kelam keluarga besarnya, di mana mantan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq juga ditangkap KPK beberapa bulan sebelumnya.

Peta kekuatan yang terbentang di gelanggang Musda ini pada akhirnya menggambarkan fragmentasi yang tajam. Di satu sisi, Ade Puspitasari berdiri berakar pada basis kelurahan dan kecamatan, membawa legitimasi historis “bocah Bekasi”, walau terus dibayangi tuduhan hegemoni dinasti serta resah akan campur tangan penguasa. Di sisi lain, Ranny Fahd Arafiq menyandarkan langkah pada restu struktur pusat dan Ormas SOKSI, tetapi harus memikul beban reputasi akibat badai KPK yang menerpa lingkar kerabatnya.

Sementara itu, kandidat seperti Nofel Saleh Hilabi hadir mewakili faksi pembaru dan Baladhika Karya, mencoba menerobos polarisasi dengan narasi konsolidasi meski harus berhadapan dengan rumitnya menggalang pemilik suara mayoritas. Di luar ketiganya, wacana kehadiran kandidat luar atau tokoh birokrasi yang didorong pintu diskresi DPP dan ormas seperti Kosgoro 1957 terus mengintai—sebuah pilihan alternatif yang menawarkan penyelesaian kemacetan faksi, namun rentan memicu kecurigaan atas intervensi top-down dari pusat.

Kemunculan prahara ini menciptakan benturan tajam antara pragmatisme elektoral dan reputasi kelembagaan. Di satu sisi, DPP Golkar tergiur oleh daya pikat elektoral Ranny yang terbukti sukses melenggang ke Senayan. Di sisi lain, para pengamat dan penggiat etika politik memperingatkan bahwa memberi ruang kepemimpinan kepada figur yang terikat dekat dengan lingkaran kasus korupsi dapat menjadi beban politik jangka panjang (political liability) bagi Golkar. Publik dipaksa menyaksikan pertunjukan di mana jargon anti-korupsi bersaing ketat dengan hasrat mengamankan pundi-pundi suara.

Jalan Ketiga dan Pintu Diskresi

Di luar pusaran pertarungan dua srikandi tersebut, politik Golkar Kota Bekasi menyimpan riak-riak lain yang tak kalah dinamis. Nofel Saleh Hilabi, seorang politisi muda yang disokong oleh Baladhika Karya dan elemen akar rumput, menawarkan narasi pembaruan. Dengan gaya retorika yang menyejukkan, Nofel berulang kali menegaskan bahwa jabatan ketua bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus tunduk pada mekanisme persatuan organisasi. Pandangan ini mencerminkan kelelahan sebagian kader terhadap konflik faksional yang terus-menerus menguras energi partai.

Di saat yang sama, deretan nama alternatif bertindak sebagai kuda hitam. Nama-nama seperti M. Iksan Nurjamil, TB Hendra, hingga figur birokrasi seperti Sekretaris Daerah Kota Bekasi Junaedi, muncul dalam bursa percakapan politik. Tak ketinggalan, dorongan pembaruan juga disuarakan oleh elemen pemuda seperti Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) di bawah komando Adi Yunsyah, ormas Kosgoro 1957 melalui figur H. Zainul Miftah, hingga himpunan alumni mahasiswa seperti KAHMI/HMI yang mendesak agar Musda tidak terjebak menjadi ajang bagi-bagi kekuasaan semata.

Dinamika ini makin rumit ketika isu diskresi DPP dibuka lebar-lebar. Kepemimpinan Bahlil Lahadalia di tingkat pusat menunjukkan kecenderungan menggunakan pintu diskresi untuk memuluskan jalan bagi figur eksternal atau tokoh alternatif demi memecah kebuntuan faksional. Preseden ini telah terjadi di berbagai daerah, seperti di DPD Golkar Kabupaten Bekasi ketika Akhmad Marjuki – seorang mantan birokrat dan Plt Bupati – masuk melalui Kosgoro 1957 hingga terpilih secara aklamasi pada Musda XI, atau di Sulawesi Selatan lewat Ilham Arief Sirajuddin.

Meskipun sempat berembus spekulasi bahwa tokoh eksternal seperti Sholihin (Gus Shol), mantan calon Wakil Wali Kota Bekasi, akan masuk dalam bursa melalui pintu diskresi, hal itu segera mereda setelah yang bersangkutan mengklarifikasi status non-kader dirinya. Namun, terbukanya opsi diskresi membuktikan bahwa garis batas antara kader internal dan kekuatan luar dalam tubuh Golkar kini kian cair dan sangat ditentukan oleh arah angin dari Jakarta.

Epilog: Sebuah Kompromi di Tanah Patriot

Politik, sering kali adalah kisah tentang harapan yang dikompromikan. Musda Golkar Kota Bekasi 2026 bukan sekadar panggung pertunjukan tempat pidato-pidato berapi-api diproduksi dan spanduk-spanduk kuning dibentangkan di sudut kota. Forum ini adalah ujian kedewasaan bagi sebuah partai politik modern: mampukah ia keluar dari jebakan pragmatisme sempit, ataukah ia akan terus tersandera oleh kepentingan oligarki faksional dan kalkulasi modal kekuasaan?

Ketika para pemilik suara – dari Pengurus Kecamatan hingga organisasi sayap – berkumpul di ruang sidang Musda, pilihan yang ada di hadapan mereka melampaui figur Ade Puspitasari, Ranny Fahd Arafiq, atau Nofel Saleh Hilabi. Pilihan sejati mereka adalah menentukan arah dan wajah Golkar Kota Bekasi di mata masyarakat akar rumput. Apakah pohon beringin itu akan tetap menjadi tempat bernaung yang teduh dan berakar bagi warga Kota Bekasi, ataukah ia sekadar menjadi tiang pancang kekuasaan yang lapuk digerogoti ambisi dan intrik tanpa akhir? Di tanah Patriot yang keras ini, jawaban itu akan segera tercatat dalam sejarah.

Bintara – Bekasi Barat, 23 September 2026

Oleh: Edi Rosadi (Mantan Kelompok Pakar / Tim Ahli (KPTA) DPRD Kota Bekasi Periode 2020-2024)

Esai

Saya kemudian membayangkan para peserta akan ‘mengaji’ dengan bahasa isyarat. Kemudian hakim akan menilai. Itulah cara mereka mengaji, dan begitulah cara mereka mencintai Alquran.

Esai

“Melon ini insyaAllah berkah. Selain berkualitas, juga berkah karena diberi doa selama perawatan dan shalawatan,” katanya.

Exit mobile version