Esai

Melon Kyase, Melon Pesantren

ADALAH satu kelegaan tersendiri bisa menyambangi Pondok Pesantren Ki Ageng Selo di Klaten. Pesantren yang mengembangkan budidaya melon hidroponik dan sistem greenhouse (rumah hijau) sebagai bagian dari program kemandirian ekonomi pesantren.

Menjelang siang akhir pekan kemarin, saya dan sejumlah sahabat menyambangi pertanian hidroponik milik pesantren tersebut. Pesantren yang pengasuhnya, adalah sahabat kami juga, RT Kyai Sarwoko Rekso Pujodipuro, atau Kyai Heri Sarwoko.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Sebuah rumah hijau (greenhouse) berada di lahan pertanian yang mengembangkan buah melon. Program pertanian modern ini didukung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi dan kemandirian pesantren.

Pengembangan pertanian ini melibatkan para santri langsung dari tahap pembenihan, penanaman, hingga panen (sekitar 3 bulan). Program ini juga membudidayakan varietas premium seperti jenis Inthanon dengan perawatan non-kimia (pestisida ramah lingkungan) sehingga lebih sehat. Uniknya, para santri merawat tanaman ini sambil berselawat.

Kami yang diberi kesempatan mengunjungi greenhose langsung diberi penjelasan terkait proses dan macam-macamnya. Sebagian saya nggak faham. Mumet.

Tapi, sedikit saya serap jika proses penanaman dan perawatan dilakukan dengan sangat cermat. Misalnya, menggunakan sistem penyiraman yang secara priodik menyiram (menyuntik) setiap tanaman. Sebuah mesin mengatur penyiraman.

Termasuk dengan pemberian pupuk dan komposisinya. Pengasuh pesantren ini memang sudah tampak familiar dengan segama macam perawatannya.

Pesantren yang berada di Dusun Selogringging, Desa Tulung, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Pesantren selain mengajarkan ilmu agama secara salaf, juga membekali santri dengan keterampilan hidup (life skill) seperti pertanian, perbengkelan, dan menjahit.

Saya kemudian diberi dua buah Melon. Namanya, Melon Kyase. Seperti nama ke-koreaan. Tapi sebenarnya singkatan nama pesantren.

“Melon ini insyaAllah berkah. Selain berkualitas, juga berkah karena diberi doa selama perawatan dan shalawatan,” katanya.

Hasilnya? Kyai Sarwoko menyebut sangat memuaskan. Selain manis dan juga memiliki khasnya. Tidak akan kalah bersaing dengan melon dari luar.

Sesampai rumah, ketika membuka melon Kyase, hemmm…. susah dijelaskan.

Dengan pengemasan yang lebih baik, maka akan bisa menembus hotel berbintang. Karena jenis melon seperti ini banyak dicari. Tentu dengan harga yang memadai. Konon, satu buah melon jenis tertentu bisa mencapai Rp 400 ribu per buah. Mau mencoba?

Oleh : Chotim Wibowo (Pimpinan redaksi)

Esai

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.

Esai

Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Exit mobile version