MTQ ke-31 Semarang saat ini ada MTQ Bahasa Isyarat? Ah, saya jadi penasaran. Bener. Membayangkan bagaimana teknik dan caranya. Meski bagaimana pun, ini hal yang pantas di apresiasi. Salut sama Kemenag.
Gebyar MTQ Nasional ke-31 memang menampakkan kemegahan yang luar biasa. Pawai taaruf menjadi tanda seberapa antusias peserta dari propinsi yang mengirimkan. Ini ajang lomba, dan tentu ada ghiroh merebut kemenangan.
Hanya saja, seperti pesan para ulama, bahwa MTQ bukanlah semata lomba mencari kemenangan. Tetapi wujud syiar dalam upaya menanamkan Alquran dalam tubuh umatnya.
Dari sekian cabang yang dilombakan, hal yang lebih menarik bagi saya adalah cabang lomba Alquran bahasa Isayarat. Cabang ini konon baru pertama kali dilombakan. Cabang lomba yang pasti lebih sepi ya?.
Saya kemudian membayangkan para peserta akan ‘mengaji’ dengan bahasa isyarat. Kemudian hakim akan menilai. Itulah cara mereka mengaji, dan begitulah cara mereka mencintai Alquran.
Melalui live streaming, saya menyaksikan peserta mengisyaratkan satu surat dengan hanya menggunakan tangan kanan.
Setelah saya telurusi, ternyata cabang ini baru dalam tahap eksibisi atau ujicoba. Eksibisi ini dilakukan sebagai ajang pengujian sistem penilain, perangkat dan kesapan dewan hakim.
Apa pun itu, hal ini bisa menjadi aspirasi komunitas tuli yang merindukan bacaan standat bacaan kitab suci Alquran.
Saat awal mengenal Alquran isyarat ini pun, saya termasuk orang yang kaget dan heran. Selama ini, ternyata, kaum tuli atau tunawicara belum bisa ‘menikmati’ mengaji Alquran. Bukankah kitab suci ini juga petunjuk bagi mereka?
Adalah Bassimah, seorang remaja asal Bekasi penyandang disabilitas rungu dan wicara. Dia bersama tim bentukan Lajnah Pentashih Mushaf Alquran (LPMQ) kemudian merintis terbentuknya Alquran Isyarat. Hingga saat ini kemudian akan dilombakan secara resmi di ajang MTQ.
Selamat sahabat komunitas tuli.
Oleh : Chotim Wibowo (Pimpinan Redaksi)
