Esai

Kesedihan Produktif

Imam Trikarsohadi ( Wartawan Senior)

Bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, juga di kota kota besar lainnya, selalu dihinggapi rasa sepi dan sedih tiap memasuki fase akhir bukan Ramadhan.

Sepi, karena mayoritas warga, tetangga dan jama’ah masjid bergegas pulang mudik. Rumah – rumah disisi kiri dan kanan, depan dan belakang; kosong ditinggal penghuninya. Shaf sholat yang tadinya membludak, kini hanya terisi sederet dua deret. Kecuali mall, maka warung dan toko pun terkunci rapat.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Sedih oleh sebab munculnya kesedihan spiritual, tidak saja karena akan berakhirnya ritual puasa, melainkan sebuah momen refleksi mendalam, dan harapan akan keberlanjutan amal. Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Para sahabat Nabi SAW dan generasi salafush shalih bersedih saat Ramadhan berakhir, karena Ramadhan adalah bulan di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. Hilangnya Ramadhan berarti hilangnya momen paling mudah untuk mendapatkan ampunan, rahmat, dan pahala yang dilipatgandakan.

Selain itu, tiap akhir Ramadhan terbit pula kekhawatiran apakah amal kita diterima oleh Allah SWT. Jangan – jangan diri ini termasuk yang merugi berpuasa namun hanya mendapat lapar dan haus.

Tapi, apa boleh buat, kita kini sedang dalam. proses berpisah dengan sebuah momentum spiritual yang sangat berharga. Ramadhan akan pergi dalam hitungan jam kedepan.

Masjid akan kembali ke ritme yang lebih lengang, malam-malam tidak lagi dipenuhi dengan ibadah panjang, dan kehidupan kembali berjalan seperti bulan-bulan biasa. Namun nilai yang diajarkan Ramadhan seharusnya tidak ikut pergi bersama berlalunya waktu.

Jika kesabaran, kedisiplinan, dan empati tetap hidup setelah Ramadhan berakhir, maka bulan suci itu telah meninggalkan jejak yang bermakna dalam kehidupan kita. Tetapi jika semuanya kembali seperti semula, maka Ramadhan hanya menjadi tamu yang lewat tanpa meninggalkan perubahan yang berarti.

Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan satu hal yang sangat sederhana tetapi mendalam: waktu adalah kesempatan yang tidak selalu datang dua kali. Kita hanya bisa memanfaatkannya ketika ia masih berada di hadapan kita.

Singkatnya, filosofi perpisahan Ramadhan adalah kesedihan yang produktif bukan meratapi tanpa makna, melainkan kesedihan yang memacu diri untuk tetap beribadah meskipun bulan suci telah pergi.

Oleh ; Imam. Trikarsohadi

Penulis: TonEditor: Bams
Esai

Beberapa waktu sebelum itu, KPK telah mengamankan Bupati Rejang Lebong (Bengkulu), Muhammad Fikri Thobari, Bupati Pati (Jawa Tengah), Sudewo, Gubernur Riau, Abdul Wahid, Bupati Bekasi, Ade Kuswara, serta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.

Esai

Padahal, bencana besar seringkali bukan datang dari serangan luar yang kejam, melainkan dari pembusukan di dalam yang kita biarkan karena kita merasa hal itu terlalu “rendah” untuk diperhatikan.

Esai

Karena itu, pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan banjir dan longsor belakangan ini sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi bumi dan alam. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, dan mungkin kedepan muncul prahara kekeringan.

Esai

Seluruh aktivitas nyaris mati gaya, dan warga yang tajir melintir maupun yang melarat “keciprat,” merasakan derita yang sama; tak berdaya seraya berdoa dan berharap hujan segera

Esai

Kita juga perlu mengatasi “Viral Culture” dalam politik, sebab krisis moral demokrasi juga disebabkan oleh budaya politik yang hanya mengejar viralitas, bukan substansi.

Esai

Folder harus mencerminkan semangat kolaborasi, bukan kompetisi tidak sehat. UMKM besar maupun UMKM pemula harus memiliki kesempatan yang sama untuk tampil. Jika ruang hanya diberikan kepada mereka yang “punya akses”, maka folder tidak lagi menjadi ruang publik melainkan ruang komersial milik sekelompok orang.

Exit mobile version