Bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, juga di kota kota besar lainnya, selalu dihinggapi rasa sepi dan sedih tiap memasuki fase akhir bukan Ramadhan.
Sepi, karena mayoritas warga, tetangga dan jama’ah masjid bergegas pulang mudik. Rumah – rumah disisi kiri dan kanan, depan dan belakang; kosong ditinggal penghuninya. Shaf sholat yang tadinya membludak, kini hanya terisi sederet dua deret. Kecuali mall, maka warung dan toko pun terkunci rapat.
Sedih oleh sebab munculnya kesedihan spiritual, tidak saja karena akan berakhirnya ritual puasa, melainkan sebuah momen refleksi mendalam, dan harapan akan keberlanjutan amal. Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.
Para sahabat Nabi SAW dan generasi salafush shalih bersedih saat Ramadhan berakhir, karena Ramadhan adalah bulan di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. Hilangnya Ramadhan berarti hilangnya momen paling mudah untuk mendapatkan ampunan, rahmat, dan pahala yang dilipatgandakan.
Selain itu, tiap akhir Ramadhan terbit pula kekhawatiran apakah amal kita diterima oleh Allah SWT. Jangan – jangan diri ini termasuk yang merugi berpuasa namun hanya mendapat lapar dan haus.
Tapi, apa boleh buat, kita kini sedang dalam. proses berpisah dengan sebuah momentum spiritual yang sangat berharga. Ramadhan akan pergi dalam hitungan jam kedepan.
Masjid akan kembali ke ritme yang lebih lengang, malam-malam tidak lagi dipenuhi dengan ibadah panjang, dan kehidupan kembali berjalan seperti bulan-bulan biasa. Namun nilai yang diajarkan Ramadhan seharusnya tidak ikut pergi bersama berlalunya waktu.
Jika kesabaran, kedisiplinan, dan empati tetap hidup setelah Ramadhan berakhir, maka bulan suci itu telah meninggalkan jejak yang bermakna dalam kehidupan kita. Tetapi jika semuanya kembali seperti semula, maka Ramadhan hanya menjadi tamu yang lewat tanpa meninggalkan perubahan yang berarti.
Pada akhirnya, Ramadhan mengajarkan satu hal yang sangat sederhana tetapi mendalam: waktu adalah kesempatan yang tidak selalu datang dua kali. Kita hanya bisa memanfaatkannya ketika ia masih berada di hadapan kita.
Singkatnya, filosofi perpisahan Ramadhan adalah kesedihan yang produktif bukan meratapi tanpa makna, melainkan kesedihan yang memacu diri untuk tetap beribadah meskipun bulan suci telah pergi.
Oleh ; Imam. Trikarsohadi
