Dua tulisan Prof. Yolanda Masnita Siagian tentang manusia yang “menghilang” dan manusia yang “rebahan” menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai fenomena sosial-ekonomi, tetapi juga sebagai refleksi tentang bagaimana manusia merespon tekanan kehidupan.
Tulisan _jouhatsu_, yang mengangkat fenomena orang-orang Jepang yang memilih “menguap” dari kehidupan sosialnya. Mereka meninggalkan pekerjaan, rumah, keluarga, bahkan identitas lama. Sebagian di antaranya menggunakan jasa yang membantu seseorang keluar dari kehidupan lamanya secara diam-diam.
Sementara tulisan tentang _lying flat_ menggambarkan respons yang berbeda dari masyarakat China. Manusia tidak benar-benar menghilang, tetapi memilih berhenti mengejar perlombaan kehidupan. Mereka tetap hidup, tetapi menarik diri dari tuntutan produktivitas, kompetisi, dan standar kesuksesan yang dibangun oleh masyarakat.
Jika dua fenomena tersebut dibaca sebagai respon manusia terhadap tekanan kehidupan, kita dapat melihat setidaknya dua kecenderungan. _Pertama_, manusia yang memilih menghilang ketika kehidupan terasa terlalu berat. _Kedua_, manusia yang memilih berhenti bergerak ketika perlombaan kehidupan terasa terlalu melelahkan. Namun, menurut hemat saya masih ada kategori ketiga yang penting untuk dibicarakan yaitu manusia yang tetap berjalan. Ia tidak memilih menghilang dari kehidupan, tetapi juga tidak membiarkan dirinya menjadi korban dari tuntutan kehidupan. Ia tetap bekerja, belajar, berkarya, dan memberi manfaat, meskipun menghadapi keterbatasan, kegagalan, dan tekanan.
Ketika Semua Jalan Tampak Buntu
Dalam perspektif Islam, salah satu jawabannya adalah iman. Iman memberikan bukan hanya seperangkat keyakinan teologis, tetapi juga kerangka dalam memaknai kehidupan. Ia memberikan orientasi ketika manusia kehilangan arah, harapan ketika menghadapi kesulitan, dan alasan untuk tetap bergerak ketika keadaan tidak memberikan banyak alasan untuk optimis.
Al-Qur’an memberikan ilustrasi yang sangat kuat melalui kisah Nabi Musa AS saat menghadapi situasi yang secara manusiawi hampir mustahil untuk diatasi. Di belakang mereka terdapat kejaran Fir’aun dan pasukannya. Di depan mereka terbentang lautan lepas. Tidak ada jalan untuk maju. Mundur pun hampir mustahil. Menghadapi situasi seperti ini, pengikut Nabi Musa kemudian berkata إِنَّا لَمُدْرَكُونَ _“Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”_ (QS. Asy-Syu’ara: 61)
Dalam situasi seperti itu, manusia sangat mudah kehilangan harapan. Ketika seluruh jalan yang tersedia secara rasional tampak tertutup, seseorang dapat sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Sebuah bentuk keputusasaan, yang bisa jadi menghasilkan _jouhatsu_ atau _lying flat_.
Justru pada saat menghadapi situasi seperti ini, Nabi Musa menjawab dengan jawaban iman كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ _“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”_ (QS. Asy-Syu’ara: 62)
Jawaban Nabi Musa mengandung sebuah konsep penting tentang optimisme dalam Islam. Nabi Musa tidak mengatakan bahwa ia mengetahui bagaimana mereka akan selamat. Ia tidak mengetahui bahwa laut akan terbelah. Ia tidak mengetahui secara rinci apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian. Yang ia miliki adalah keyakinan bahwa Allah bersamanya dan Allah akan memberikan petunjuk.
Inilah perbedaan antara optimisme yang berbasis iman dengan optimisme yang sekadar berbasis perasaan positif. Optimisme seorang mukmin bukan keyakinan bahwa semua persoalan akan selalu mudah. Ia adalah keyakinan bahwa tidak ada persoalan yang membuat Allah kehilangan jalan untuk menyelesaikannya.
Dan benar saja, setelah itu Allah memberikan petunjuk فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ _“Maka Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’”_ (QS. Asy-Syu’ara: 63). Laut yang semula tampak sebagai jalan buntu justru menjadi jalan keselamatan.
Dari kisah ini kita dapat mengambil sebuah prinsip penting bahwa orang beriman tidak selalu mengetahui jalan keluar, tetapi ia memiliki keyakinan bahwa Allah akan menunjukkan jalan keluar. Karena itu, ketika kehidupan menghadapkan manusia pada “laut” dan “Fir’aun” sekaligus, respon seorang mukmin bukan segera menyimpulkan bahwa kehidupan telah berakhir. Ia tetap mencari jalan. Ia tetap berusaha. Ia tetap menunggu petunjuk. Iman yang melahirkan daya juang bagi dirinya.
Keyakinan tersebut bukan alasan untuk menjadi pasif. Justru sebaliknya, iman yang benar melahirkan daya juang. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
_“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”_ (HR. Muslim)
Hadis ini menarik karena menggabungkan tiga dimensi sekaligus. _Pertama_, احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ _“Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat.”_ Ini adalah orientasi pada tindakan. _Kedua_, وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ _“Mintalah pertolongan kepada Allah.”_ Ini adalah kesadaran spiritual bahwa manusia memiliki keterbatasan. _Ketiga_, وَلَا تَعْجَزْ _“Jangan menjadi lemah”._ Ini adalah dorongan untuk tidak menyerah kepada keadaan.
Dengan demikian, Islam menawarkan sintesis antara ikhtiar dan tawakal. Manusia tidak diminta memilih antara bekerja dan berdoa. Ia diminta melakukan keduanya. Ia bekerja karena percaya bahwa ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawabnya. Ia berdoa karena menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah. Inilah karakter manusia yang tetap berjalan yaitu aktif tanpa arogan, optimistis tanpa naif, dan tawakal tanpa pasif.
Produktivitas sebagai Bentuk Syukur
Ada satu dimensi lain yang menurut saya penting ketika membicarakan manusia yang produktif dalam perspektif Islam. Produktivitas tidak hanya lahir dari ambisi untuk memperoleh sesuatu. Ia juga dapat lahir dari kesadaran atas banyaknya nikmat Allah.
Al-Qur’an memberikan contoh yang sangat menarik dalam kisah keluarga Nabi Dawud AS, sebagaimana firman Allah :
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
_“Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”_ (QS. Saba’: 13)
Perintah اعْمَلُوا _“beramallah”_ diletakkan berdampingan dengan شُكْرًا _“sebagai bentuk syukur”._ Ada pesan yang sangat kuat di sini bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan tetapi diterjemahkan menjadi amal. Nikmat ilmu melahirkan pengajaran. Nikmat kesehatan melahirkan aktivitas yang bermanfaat. Nikmat harta melahirkan kontribusi. Nikmat waktu melahirkan karya. Nikmat jabatan melahirkan pelayanan. Nikmat kemampuan melahirkan kemanfaatan.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak seharusnya hanya bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya terima?” Ia juga perlu bertanya “Apa yang sudah saya lakukan dengan semua yang telah Allah berikan?”
Pertanyaan kedua inilah yang mengubah produktivitas dari sekadar ambisi pribadi menjadi bentuk pertanggungjawaban moral dan spiritual. Produktivitas tidak lagi hanya tentang output, tetapi tentang amanah. Produktif tetapi tidak menjadi budak produktivitas.
Namun demikian, ada hal yang perlu dibedakan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi budak produktivitas karena produktivitas bukan tujuan akhir kehidupan. Seseorang dapat memiliki karier yang tinggi tetapi kehilangan keluarganya. Ia dapat memiliki kekayaan tetapi kehilangan ketenangan. Ia dapat memiliki jabatan tetapi kehilangan integritas.
Karena itu, Islam memberikan orientasi yang lebih seimbang sebagaimana firman Allah SWT :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
_“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”_ (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini memberikan arah orientasi yang lebih jelas bahwa akhirat menjadi tujuan, dunia hanya sebagai sarana. Karena itu, seorang Muslim boleh memiliki ambisi besar; Ia boleh menjadi pengusaha, ilmuwan, profesional, pemimpin, akademisi, politisi, atau tokoh masyarakat. Tetapi semua itu tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan dirinya. Ia bekerja keras, tetapi tidak kehilangan ibadah. Ia mengejar prestasi, tetapi tidak kehilangan integritas. Ia membangun kekayaan, tetapi tidak kehilangan kepedulian. Ia memiliki ambisi, tetapi ambisinya berada di bawah kendali nilai. Dengan cara ini, Islam tidak menawarkan manusia untuk keluar dari kehidupan, tetapi menawarkan cara hidup yang lebih bermakna di dalam kehidupan.
Di Antara Menghilang dan Rebahan
Karena itu, jika dua fenomena yang diangkat Prof. Yolanda kita baca sebagai dua respon manusia terhadap tekanan kehidupan, saya ingin menambahkan perspektif ketiga. Golongan pertama adalah manusia yang menghilang ketika kehidupan menjadi terlalu berat, ia memilih keluar dari kehidupan sosialnya. Golongan kedua adalah manusia yang rebahan ketika perlombaan kehidupan menjadi terlalu melelahkan, ia memilih berhenti bergerak. Golongan ketiga adalah manusia yang tetap berjalan. Ia juga dapat lelah. Ia juga dapat kecewa. Ia juga dapat gagal. Ia juga dapat mengalami jalan buntu. Namun, iman membuatnya memiliki sumber daya batin untuk mengatakan
إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
_“Tuhanku bersamaku. Dia akan memberiku petunjuk.”_
Sebaliknya, ia menyadari ketika begitu banyak nikmat yang telah diterimanya, ia mengingat
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
_“Beramallah sebagai bentuk syukur.”_ Maka ia tetap berjalan. Ia tetap belajar. Ia tetap bekerja. Ia tetap berkarya. Ia tetap melayani. Ia tetap memberi manfaat. Bukan semata-mata karena takut kalah dalam kompetisi dunia, tetapi karena ia memahami hidup sebagai amanah.
Di sinilah menurut saya Islam memiliki tawaran yang sangat relevan bagi manusia modern. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menghindari kehidupan. Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk menghabiskan kehidupan dalam perlombaan tanpa akhir. Islam mengajarkan manusia bagaimana menjalani kehidupan dengan iman, tujuan, keseimbangan, dan makna.
Peran Cendekiawan Muslim
Pada titik ini, saya melihat ada tugas besar bagi para cendekiawan Muslim. Di tengah dunia yang sedang mengalami berbagai bentuk krisis —ekonomi, kesehatan mental, relasi sosial, makna hidup, ketimpangan, disrupsi teknologi, hingga krisis kepercayaan— masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar diagnosis terhadap masalah. Mereka membutuhkan harapan dan alternatif. Di sinilah salah satu tugas penting cendekiawan Muslim yaitu membangun optimisme di tengah keterpurukan dunia. Bukan optimisme kosong yang hanya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi, optimisme yang dibangun di atas keyakinan, ilmu, dan pembacaan yang serius terhadap realitas.
Cendekiawan Muslim perlu meyakinkan masyarakat bahwa Islam bukan hanya kumpulan doktrin yang berada di ruang ibadah, tetapi juga memiliki nilai, prinsip, dan khazanah keilmuan yang dapat memberikan perspektif terhadap berbagai persoalan kehidupan manusia. Tentu, tugas tersebut tidak cukup dengan sekadar mengutip ayat dan hadis. Ada pekerjaan intelektual yang lebih serius: yaitu mengekstrak nilai dan ilmu dari literatur Islam, membacanya dalam konteks zaman, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan dan implementasi yang relevan dengan persoalan kehidupan yang sedang kita hadapi. Khazanah Islam tidak boleh hanya menjadi sesuatu yang kita kagumi. Ia harus menjadi sesuatu yang kita pahami, kita kontekstualisasikan, dan kita implementasikan.
Kisah Nabi Musa AS tidak berhenti sebagai cerita tentang mukjizat. Ia dapat menjadi sumber refleksi tentang optimisme dan ketangguhan manusia ketika menghadapi jalan buntu. Perintah “اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا” tidak berhenti sebagai ayat tentang keluarga Nabi Dawud AS. Ia dapat menjadi landasan konseptual bahwa produktivitas merupakan salah satu bentuk syukur atas nikmat Allah. Hadis “احرص على ما ينفعك” tidak berhenti sebagai nasihat individual. Ia dapat menjadi etos untuk membangun masyarakat yang aktif mencari solusi dan menghasilkan kemanfaatan. Dengan cara inilah khazanah Islam dapat hadir dalam kehidupan kontemporer, bukan sekadar sebagai teks yang dikutip, tetapi sebagai nilai yang dihidupkan.
Pada akhirnya, mungkin kita memang membutuhkan lebih banyak manusia yang tetap berjalan. Manusia yang tidak menghilang ketika menghadapi kesulitan. Manusia yang tidak menyerah pada keadaan. Manusia yang tidak menjadi budak produktivitas. Manusia yang menggunakan nikmatnya untuk berkarya. Manusia yang ketika berhadapan dengan laut kehidupan tetap percaya bahwa Allah akan menunjukkan jalan. Dan manusia yang ketika mendapatkan nikmat tidak berhenti pada ucapan syukur, tetapi menerjemahkan syukurnya menjadi amal. Inilah manusia yang optimistis karena iman, produktif karena syukur, dan berdaya karena memiliki tujuan.
Di tengah dunia yang sedang mencari jalan keluar dari berbagai krisis, tugas cendekiawan Muslim bukan hanya menunjukkan bahwa dunia sedang bermasalah. Tugas kita adalah ikut menawarkan jalan keluarnya. Sebab, Islam seharusnya tidak hanya menjadi agama yang diyakini oleh manusia, tetapi juga sumber nilai yang menghadirkan solusi bagi kehidupan manusia. Wallahu a’lam…..
Oleh : Ahmad Syaikhu
(Mahasiswa Universitas Trisakti yang sedang belajar menulis)
