Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Esai

Pergantian Pimpinan AKD, Siapa Pegang Kendali?

×

Pergantian Pimpinan AKD, Siapa Pegang Kendali?

Sebarkan artikel ini
Ivan Faizal Affandi

Tensi politik di Kota Bekasi mulai menghangat seiring bakal dilakukannya pergantian pimpinan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) DPRD Kota Bekasi. Partai politik dari yang besar hingga kecil pun mulai saling menjajaki komunikasi politik untuk urusan berbagi kue pimpinan AKD. Lalu siapa pemegang kendali?

PKS dan PDI Perjuangan yang sama-sama punya 12 kursi di DPRD Kota Bekasi kabarnya sudah geleng-angguk untuk urusan pembagian jatah pimpinan AKD. Masuk dalam gerbong mereka Gerinda dengan 6 kursi, disusul PAN 5 kursi, Demokrat 4 kursi dan PKB 1 kursi. Jika ditotal maka ada 40 kursi wakil rakyat dalam gerbong besar ini. Sedangkan total kursi di DPRD hanya berjumlah 50 kursi.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Lalu kemana sisa 10 kursi lagi? Sisanya adalah Golkar dengan 8 kursi dan PPP 2 kursi. Dua partai ini kemungkinan besar akan ditinggal oleh gerbong besar PKS dan PDI Perjuangan. Hal ini pula yang terjadi pada pemilihan AKD di masa awal jabatan anggota DPRD Kota Bekasi.

Pengalaman yang menimpa Golkar dan PPP, khususnya Golkar merupakan ironi tersendiri bagi partai berlambang pohon beringin tersebut. Sebab saat itu, Golkar merupakan partai pemenang dalam Pilkada Kota Bekasi yang pada saat Pilkada membangun koalisi besar. Sayang, koalisi di Pilkada tak otomatis terbentuk di DPRD, utamanya dalam urusan berbagi kue pimpinan AKD.

Lantas apakah pergantian AKD masih akan sama pada waktu yang lalu? Hingga saat ini kecenderungannya masih demikian. Meskipun gosip yang menyebar, gerbong besar yang digawangi PKS dan PDI Perjuangan, belum sepenuhnya menemui titik sepakat.

Hingga saat ini, ada persoalan soal pembagian porsi pimpinan AKD, khususnya untuk pos ketua. Dengan jumlah AKD sebanyak 6 buah, masih ada partai yang belum kebagian jatah untuk mendapatkan posisi ketua.

Kabarnya, partai yang belum dapat jatah adalah partai Gerindra. Ini dikarenakan PKS dan PDI Perjuangan urung melepas jatah pimpinan mereka. Keduanya bersikeras untuk mendapatkan masing-masing dua ketua AKD dan tidak ada yang mau membagi untuk Gerindra.

Sementara jatah ketua AKD yang lain sudah disegel PAN dan Demokrat. Adapun PKB dengan jumlah satu kursinya cukup tahu diri untuk tidak ngotot seperti Gerindra.

Selain Gerindra yang kabarnya masih ngotot, PDI Perjuangan juga tidak lepas dari terpaan kabar miring. Kabarnya, terjadi konflik internal cukup sengit dalam persoalan pimpian AKD di tubuh Banteng. Masih terjadi tarik ulur siapa anggota dewan dari PDI Perjuangan yang bakal mengisi posisi ketua AKD.

Dalam situasi semacam ini, sejatinya memungkinan terjadinya manuver politik oleh parpol yang ada di DPRD Kota Bekasi.

Secara matemastis PKS dengan jumlah 12 kursi berpeluang melakukan manuver itu kalau mereka mau. PKS bisa saja cabut dari gerbong besar yang mereka bangun dengan PDI Perjuangan lalu membangun gerbong baru bersama Golkar dan PPP dengan membawa serta Gerindra untuk ikut bergabung.

baca juga : https://bekasiguide.com/2022/04/05/syaifudaullah-besok-di-lantik-jadi-ketua-dprd/

Jika PKS, mampu melakukan itu, maka gerbong baru tersebut akan berjumlah 28 kursi dengan rincian PKS 12 kursi, Golkar 8 kursi, Gerindra 6 kursi dan PPP 2 kursi. Dengan komposisi seperti itu, maka PKS dengan gerbong barunya bisa menyapu bersih semua pos pimpinan AKD.

PKS juga bakal lebih untung dengan gerbong baru tersebut. Karena dengan jumlah kursi terbanyak di dalam gerbong, maka PKS bisa saja meminta jatah 3 kursi ketua AKD menjadi milik mereka dari 6 kursi ketua AKD yang tersedia. Di banding mereka harus bergabung dengan PDI Perjungan yang hanya dapat jatah 2 kursi ketua, itupun satu kursi masih diributkan agar dilepas untuk Gerinda.

Beranikah PKS?

Oleh : Ivan Faizal Affandi

Example 120x600
Esai

Sebuah penelitian berjudul “The Role of Internet User Characteristics and Motives in Explaining Three Dimensions of Internet Addiction” yang dilakukan oleh Junghyun Kim danPaul M. Haridakis dari Kent State University menyatakan bahwa seseorang dapat disebut sebagai pengguna berat internat adalah mereka yang menghabiskan waktunya lebih dari 194 menit (kurang lebih 3 jam) dalam sehari untuk mengakses internet.

Esai

“Affan ngasi tahu, dia sudah selesai setoran terakhir langsung ke guru. Sekarang harus takrir, persiapan dia simakan 30 juz nya,” bunyi WA dari rumah.

Esai

“Bu, saya sudah sampai di tanah suci, nih. Seperti do’a mu dulu. Saya juga masih membawa recehan real yang kamu titipkan ke saya untuk dibelanjakan di sini,” rintih saya ke almarhumah ibu. (alfatehah).

Esai

Banyak yang menganggap kondisi ini dapat memicu Perang Dunia 3. Dampak memanasnya kondisi geopolitik dunia juga berpotensi memberikan imbas buruk ke 14 negara di dunia.

Esai

Hari Jumat memiliki sejarah termat panjang dalam peradaban manusia. Bahkan, pada zaman jahiliah di negeri Arab, mereka juga mengkhususkan hari Jumat. Tapi mereka merayakannya sebagai hari Al-Arubah, hari menebar kasih sayang.