Ibadah haji maupun umrah memiliki tata cara serta ketentuan rukun yang wajib dipenuhi. Selain termasuk ibadah yang tidak mudah, haji dan umrah juga membutuhkan biaya besar, sehingga persiapan jamaah dinilai harus benar-benar matang.
“Karena ibadah ini tidak mudah dan biayanya juga tinggi, maka sekali berangkat harus ada ilmunya,” kata Ustaz H. Rofiudin, selaku anggota Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Bekasi, Selasa, 20 Januari 2026.
Rofiudin yang juga menjadi pendamping ibadah haji dan umrah dari biro perjalanan Berkah Makkah Wisata (BMW) menjelaskan, ilmu yang dimaksud adalah pemahaman yang cukup mengenai syarat dan rukun haji maupun umrah. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, jamaah dapat menjalankan rangkaian ibadah secara benar dan sesuai tuntunan.
Menurutnya, pemahaman yang baik sangat berpengaruh terhadap kualitas ibadah, termasuk harapan jamaah agar umrah maupun hajinya dapat diterima dan menjadi mabrur.
Rofiudin menilai, pembekalan paling efektif bagi jamaah adalah melalui praktik langsung atau manasik. Sebab, jamaah lebih mudah memahami materi ketika melihat dan mempraktikkan secara langsung dibanding hanya menerima teori.
“Kalau praktik, maka lebih gampang dipahami. Misalnya bagaimana cara memakai pakaian ihram, lalu bagaimana tawaf, sai, dan rangkaian lainnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan, belum lama ini dirinya mendampingi pelaksanaan manasik umrah yang diikuti sekitar 80 jamaah di area Asrama Haji Bekasi. Para jamaah tersebut dijadwalkan berangkat dalam beberapa kloter, yakni pada 27 Januari, 3 Februari, serta program umrah full Ramadhan.
Selain keberangkatan tersebut, Rofiudin menyebut Biro Perjalanan Berkah Makkah Wisata (BMW) juga rutin memberangkatkan jamaah umrah setiap bulan, sehingga pembekalan manasik menjadi agenda penting agar jamaah semakin siap menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Dalam agenda manasik, para jamaah juga mendapatkan berbagai tips penting, termasuk cara mengenakan pakaian ihram dengan benar dan kuat, serta gambaran kondisi kepadatan jamaah bagi mereka yang memilih keberangkatan pada bulan Ramadhan.
“Dengan manasik, penjelasan lebih mudah dan jamaah juga lebih cepat paham karena dibantu miniatur Ka’bah dan simulasi langsung,” kata Rofiudin.
Ia mengaku merasa senang ketika jamaah mulai memahami perbedaan antara rukun dan syarat umrah, sehingga diharapkan saat berada di Tanah Suci mereka lebih siap dan tidak kebingungan dalam menjalankan ibadah.
Menutup keterangannya, Rofiudin berharap seluruh jamaah yang akan berangkat dapat menjaga niat, kesehatan, serta kekhusyukan selama menjalankan rangkaian ibadah.
“Manasik ini bukan sekadar formalitas. Ini bekal utama supaya jamaah paham apa yang dikerjakan. Harapannya, ibadahnya lebih tertib, lebih tenang, dan semoga Allah berikan kemudahan serta menjadi umrah yang diterima,” pungkasnya.
