Esai

Syahdunya Khataman Jamaah di Masjid Agung

SUBUHAN bersama Jamaah Masjid Agung Albarkah, Kota Bekasi, (Sabtu, 19/07). Sejuk dan adem, karena ada agenda rutin khataman jamaah.

Pagi yang adem. Membaca shalawat, maulid dan doa khataman, Dipimpin imam yang juga Pimpinan Pesantren Yamqu, KH. Amirudin Alhafidz.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Imam dengan suara merdu ini membimbing jamaah melalui dzikir dan maulid yang menyentuh. Sejumlah santri juga diajak guna menambah kekhusyukan dalam berzikir.

“Ini sudah rutin. Dan jamaah sangat senang dengan kebersamaan jamaah di sini,” kata H. Furqon, sesepuh jamaah masjid.

Kegiatan Jamaah Masjid yang tergabung dalam Masajid ini memang cukup beragam. Selain pengajian rutin, juga belajar mengaji tahsin bersama imam pakar.

Kegiatan sosial juga dilakukan melalui jumah barokah dan lainnya. Sejumlah tokoh seperi H Is Suroto, H Chepy, dan lainnya.

Maka, waktu setelah subuh pun seperti sangat singkat. Menikmati mahalul qiyam dan doa khatmul quran dengan penuh kekhusyukan. Sampai waktu syuruq dan memberi kesempatan jamaah melaksanakan shalat.

Sampai tiba acara ramah tamah dengan menikmati sajian ‘kincan duren’ dan nasi uduk. “Ini semua dari kebersamaan jamaah. Alhamdulillah,” kata H Chepy.

Saya pun bergabung. Bersalaman dan bersapa khabar. Sambil menikmati kincan duren sajian jamaah ibu-ibu yang sangat lezat. Alhamdulillah. Subuh kali ini sangat bermakna.

Penulis: Chotim W (IPHI Kota Bekasi)

Esai

Karena itu, pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan banjir dan longsor belakangan ini sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi bumi dan alam. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, dan mungkin kedepan muncul prahara kekeringan.

Esai

Seluruh aktivitas nyaris mati gaya, dan warga yang tajir melintir maupun yang melarat “keciprat,” merasakan derita yang sama; tak berdaya seraya berdoa dan berharap hujan segera

Esai

Kita juga perlu mengatasi “Viral Culture” dalam politik, sebab krisis moral demokrasi juga disebabkan oleh budaya politik yang hanya mengejar viralitas, bukan substansi.

Esai

Folder harus mencerminkan semangat kolaborasi, bukan kompetisi tidak sehat. UMKM besar maupun UMKM pemula harus memiliki kesempatan yang sama untuk tampil. Jika ruang hanya diberikan kepada mereka yang “punya akses”, maka folder tidak lagi menjadi ruang publik melainkan ruang komersial milik sekelompok orang.

Esai

Pemanfaatan folder sebagai ruang wisata, olahraga, dan UMKM memiliki banyak peluang, namun juga memiliki risiko. Karena itu, setiap langkah harus disusun melalui kajian detail: keamanan, ketertiban, dampak lingkungan, manajemen keramaian, hingga regulasi pemanfaatan UMKM agar tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Exit mobile version