Esai

Pagi Ini Di Sawah

PAGI ini dapat ilmu dari Kakek Sayuti, 78, saat saya main di sawah. Terkait harapan dan kehidupan. Ikhtiar, lalu pasrah menghadapinya.

Hari masih belum syuruq ketika ketemu kakek dengan 12 cucu ni, di daerah Caringin, Bogor. Di saat hawa masih dingin, saat awan kelihatan masih menutup puncak gunung Salak.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

“Saya lahir setahun sebelum merdeka. Alhamdulillah, masih diberi sehat,” katanya.

Beragam jalan kehidupan sudah dilalui. Bermacam-macam. Seperti pernah jadi tukang becak di kawasan Senen, Jakarta, di tahun 70an. Di hari senjanya sekarang, menjaga sawah di lahan pak Haji di sini.

Saat ini, Kakek Sayuti hanya tinggal berdua bersama istri di rumah mungilnya. Alhamdulillah, anak anak yg sebagian besar dipesantrenkan kini sudah berkeluarga semuanya. Diantaranya ada yang jadi ustadz di Jakarta. Lega.

Harapannya ada satu yang belum terwujud. Pingin ke Mekah. “Saya pingin ke tanah Suci. Tapi apa mungkin ya?” katanya cepat meragukan.

Kondisinya sepertinya sudah tak mungkin. Usia kian menua dan nggak ada biaya. “Khan mahal. Dan saya nggak punya uang,” katanya. Rona wajah mendadak berubah ketika mengatakan ini. Pandangannya dialihkan memandangi persawahan.

Ceritanya mengalir pada ikhtiar doa yang selalu dilakukan. Di setiap habis sholat lima waktu. Ya, hanya doa. Sebagai pelengkap, bacaan istighfar dan shalawat. Lalu, kakek ini mengucapkan salawat nariyah dan saya meneruskannya.

Rupanya dia makin senang saat saya juga hafal shalawat itu. Bercerita tentang kerinduan Nabi. Tapi antrean kuota yang panjang. Malah, katanya, umur juga dibatasi. “Siapa sih pak yang tidak kangen ke Nabi?” katanya. (lagi- lagi, matanya berkaca kaca).

Saya pun tergerak memberi motivasi. Karena tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak. Meskipun usia senja. Meskipun tak berharta. Tapi, jika dikehendaki, maka pasti bisa ke sana.

Di akhir menulis ini, saya dikagetkan dengan ajakan kakek yang lewat depan saya. Rupanya kakek ini sudah selesai menggebah burung. “Ayo, pak mampir ke rumah. Sarapan,” ajaknya.

Ah. Sesuatu sekali pagi ini.

Bogor, Jumat (11/11/2022)

H. Chotim Wibowo

(Pemimpin Redaksi)

 

Esai

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.

Esai

Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Esai

Beberapa waktu sebelum itu, KPK telah mengamankan Bupati Rejang Lebong (Bengkulu), Muhammad Fikri Thobari, Bupati Pati (Jawa Tengah), Sudewo, Gubernur Riau, Abdul Wahid, Bupati Bekasi, Ade Kuswara, serta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.

Esai

Padahal, bencana besar seringkali bukan datang dari serangan luar yang kejam, melainkan dari pembusukan di dalam yang kita biarkan karena kita merasa hal itu terlalu “rendah” untuk diperhatikan.

Exit mobile version