Tetap menjadi Survivor, Aktif dan Produktif di Masa Pandemi

Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd (Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah Batam, Dosen Universitas Batam, Dosen Universitas Ibnu Sina Batam, Dosen Pasca Sarjana Universitas Terbuka ).

Terhitung dari bulan Maret 2020 hingga Oktober 2020 dan ini sudah memasuki bulan November, apa kabar kita di masa pandemic ini ? Masihkah kita bersabar tetapi tetap berkarya, aktif dan produktif di masa masa New Normal ini? Tak ada salahnya support satu sama lain akan meningkatkan herd immunity dan mengasah kecerdasan edversity , sehingga tetap menjadi survivor di masa pandemic.

Menjadi survivor akhirnya menjadi pilihan kita dalam menghadapi masa pandemic ini,karena kita harus tetap berjuang untuk keluarga kita. Karena pertumbuhan ekonomi juga masih sangat lemah, bahkan minus.

Seperti telah dilansir oleh media Kompas.com tertanggal 13/10/2020, Wapres Ma’ruf Amin menuturkan, hingga kuartal II-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat negatif 5,32 %. Pemerintah pun telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 pada kisaran -2,9 % hingga -1,1 %. Angka tersebut, lebih dalam jika dibandingkan dengan proyeksi awal sebesar minus 2,1 % hingga 0 %. Sedangkan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 diperkirakan minus 1,7 % hingga minus 0,6 %, yang merupakan revisi dari proyeksi sebelumnya 1,1 % hingga-positif-0,2%.

Maka kita harus tetap aktif dan produktif agar dapat bertahan dalam kondisi pandemic ini dan terus gali potensi diri. Terkait perjuangan penulis teringat buku yang berjudul ‘Between a Rock and a Hard Place’ karya Aron Ralston, yang dirilis tahun 2004.

Buku yang ditulis oleh Aron Ralston ini menceritakan kisah pendakian di lembah Utah terpencil yang berakhir buruk. Di sebuah ngarai yang dalam dan sempit, batu besar terlepas dan jatuh menjepit pergelangan tangan Ralston ke dinding ngarai.

Ia terjebak dan putus asa selama enam hari dengan makanan, minuman, dan pakaian hangat yang terbatas. Akhirnya ia menyadari bahwa ia memiliki satu jalan keluar, yaitu dengan mengamputasi tangannya sendiri. Buku ini kemudian dibuat menjadi film dengan judul 127 Hours yang disutradari oleh Danny Boyle.

Film ini menceritakan kisah nyata si penulis buku Aron Ralston, saat dirinya terjebak di Blue John Canyon selama 127 jam dengan batu besar yang menjepit tangan kanannya di dinding dan hanya punya sedikit persediaan makanan dan minuman untuk bertahan hidup.

Selama 5 hari dan hanya ada satu botol air mineral aja yang tersisa, Aron Ralston akhirnya memutuskan untuk memotong tangan kanannya. Selama 127 jam, di dalam kepasrahan dan keputusasaan untuk bertahan hidup, Aron teringat kembali semua kenangan indah selama hidupnya. Setidaknya itulah yang menjadi penyemangat lain hingga akhirnya ia bisa bertahan hidup dan bebas dari jebakan maut di Blue John Canyon.

Walaupun perjuangan di masa pandemic tidak se-ekstrim dalam buku ‘Between a Rock and a Hard Place’ karya Aron Ralston,tetapi buku ini mengingatkan dan memotivasi kita agar tetap survive dalam menghadapi kondisi sangat berat.

Kembali lagi terkait kepada bagaimana kita dapat tetap aktif dan produktif di masa pandemic ini, Penulis dapat merangkum dalam beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di New Normal ini :

1. Bekerja dari rumah ( WFH ), segala pekerjaan kantor dapat dikerjakan dari rumah, file/folder yang berisi job kita dibawa pulang dan dikerjakan di rumah.

2. Rapat dan segala koordinasi terkait pekerjaan dilakukan secara online dengan fasilitas aplikasi pendukung, seperti zoom meeting, google meet, jitsi meet, Google Duo, Teams, atau aplikasi lain yang sekiranya efektif dan efisien dalam tatap muka beraplikasi.

3. Menambah wawasan dengan mengikuti seminar- seminar online ( webinar), serta menambah relasi dan membangun network.

4. Membaca materi yang sesuai minat dan ketertarikan ilmu kita, dari media online yang sangat bervariasi dan lengkap.

5. Mencoba sesuatu baru yang membuat kita tertantang ingin melakukannya, contoh : bercocok tanam, mengekplorasi hobi memasak, belajar mesin, dan sebagainya.

6. Menulis sesuatu yang akan mengasah otak kita, mengemukakan pendapat atau opini, atau menulis hal terkait ketertarikan kita pada suatu bidang, dan publish ke media, sehingga menjadi aktifitas yang menyenangkan, bermanfaat dan memungkinan mendatangkan uang, nantinya.

7. Berbisnis online dengan menyisihkan waktu di antara pekerjaan kantor dan rumah. Hal ini akan menjadi menarik apabila memang ada bakat yang selama sebelum masa pandemic belum tereksplorasi.

8. Membangun silaturahim dengan keluarga jauh dan teman-teman lama dan jalin komunikasi positif di masa pandemic, siapa tahu akan mendatangkan kemanfaatan yang lebih.

9. Mendesign dan beberes rumah dengan design interior baru sehingga menimbulkan suasana baru yang menyenangkan dan fresh.

10. Membuat office atau ruang kerja di rumah yang nyaman dan betah dalam WFH.

11. Melakukan kegiatan kekeluargaan dengan anggota keluarga yang selalu ini waktu untuk keluarga sangat terbatas, seperti menonton film bersama, mendengarkan kajian agama, diskusi dengan pasangan dan anak, dan kegiatan manfaat lainnya.

Dari beberapa hal tersebut di atas kita dapat melakukannya sesuai dengan hobi dan paisson kita. Karena bila kita melakukan sesuatu memang sesuai dengan passion kita, maka akan membuat kita bahagia dan tak menutup kemungkinan akan mendatangkan pendapatan yang lumayan dan akhirnya bila ditekuni akan menajdi karir kita. Tetapi bila hanya hobi pastinya hanya dilakukan disela-sela kesibukan kita dan atas dasar suka.

Nah, ini juga beberapa perbedaan hobi dan passion, diantaranya :

1. Hobi sekedar Pelepas Stres , sedang paisson adalah Penakluk atau bahkan pembunuh Stres

2. Hobi seringnya justru menimbulkan Pengeluaran sedangkan Passion justru akhirnya bila dikerjakan secara professional maka menjadi karir dan mendapatangkan uang / Pemasukan

3. Hobi hanya dilakukan bila kita ada waktu luang / tidak terlalu sering dan apabila passion dilakukan sebagai kontinuitas / terus menerus dan dalam waktu lama.

4. Seseorang dengan gairah atau passion yang besar dalam dirinya merupakan orang yang akan melakukan sesuatu hal yang besar pula. Selain itu, orang tersebut juga akan mengumpulkan segala informasi yang terkait lalu menyebarkannya pada semua orang yang memerlukan.

Misalnya saja, seseorang memiliki sebuah passion di dunia fotografi atau hal yang lain. Tentu yang akan dilakukan bukan cuma sekadar memotret saja untuk mendapatkan gambar yang bagus. Melainkan juga akan membuat banyak orang jadi terinspirasi dengan karya yang telah dihasilkan.

Hal ini, sedikit berbeda dengan yang namanya hobi. Hobi cenderung berkutat pada kepentingan pribadi atau kepuasan diri sendiri. Biasanya hal tersebut tidak banyak berpengaruh pada kehidupan orang lain.

Dan terkait dengan artikel tersebut di atas, penulis berharap akan menjadikan manfaat kepada pembaca semua, sehingga solusi di masa pandemic ini. Salam sehat dan tetap aktif dan produktif di masa pandemic ini.

Penulis : Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd (Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah Batam, Dosen Universitas Batam, Dosen Universitas Ibnu Sina Batam, Dosen Pasca Sarjana Universitas Terbuka).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *