EsaiPolitik

Dilema Kartu Sehat

Ahmad Syaikhu (Mantan Wakil Wali Kota Bekasi). Poto: dok

BEKASI- Kartu Sehat berbasis NIK (KS) memang semacam kartu ajaib yang banyak memberikan solusi pada situasi yang sulit saat seseorang menderita sakit.

Ibarat asuransi unlimited, tentu saja KS berkonsekuensi memerlukan penyiapan dana yang besar. Jika pemerintah daerah memiliki kemampuan keuangan, tanpa mengorbankan sektor kehidupan masyarakat lainnya, tidak masalah untuk membiayai kesehatan warganya sendiri.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Di samping kemampuan keuangan daerah, tentu saja kesesuaian dengan aturan dari pemerintah pusat juga harus dijadikan pegangan karena kita hidup di NKRI. Pemerintah pusat menghendaki layanan kesehatan di daerah diintegrasikan dengan program JKN yang berlaku secara nasional.

Itulah sebabnya, dalam pembahasan LKPJ 2018, Pansus LKPJ yang diketuai oleh Saudara Daryanto dari partai Golkar mengeluarkan rekomendasi agar KS diintegrasikan dengan program JKN. Memang pada saat itu yang membacakan laporan akhir pansus adalah Saudara Chairoman dari PKS, atas permintaan pimpinan Sidang Paripurna pada saat itu.

Adalah sebuah kesalahan saat kisruh kartu sehat semua dikambinghitamkan kepada ketua DPRD dari PKS. Sebagai orang yang pernah membidani lahirnya Kartu Bekasi Sehat (KBS) sebelum lahirnya KS, tentu saja tidak logis kalau PKS menolak pemberlakuan KS, justru dulu saya yang menginisiasi lahirnya KBS. Hanya saja, secara normatif tetap harus sejalan dengan berbagai aturan perundangan yang ada. Itulah yang diinginkan oleh PKS. Apalagi Ketua DPRD juga telah mengetuk palu pengesahan APBD 2020 yang di antaranya adalah persetujuan dilanjutkannya program kartu sehat.

Dengan adanya demo dari berbagai pihak, termasuk para TKK, yang menimpakan kesalahan kekisruhan KS ini pada kader PKS yang tengah menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Bekasi, menurut saya ini adalah salah alamat. Kisruh sebenarnya adalah masalah kesesuaian aturan yang belum sinkron antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.

Jika PKS terus disalahkan dan dikambinghitamkan, maka saya sebagai Ketua Umum DPW PKS Jawa Barat akan memerintahkan kepada DPD PKS Kota Bekasi dan Fraksi PKS Kota Bekasi untuk mengambil sikap dan positioning yang tegas dalam kisruh KS ini.

Semoga semua pihak dapat berfikir secara jernih dan mencari solusi dari permasalahan ini.

Penulis : Ahmad Syaikhu (Mantan Wakil Wali Kota Bekasi)

Politik

“Dari hasil RDP, kami mencatat tiga BUMD sudah mampu memberikan dividen kepada daerah, ini patut diapresiasi. Satu BUMD berada pada jalur yang tepat, dan satu lainnya sedang menyiapkan ekspansi usaha. Ini menunjukkan adanya perbaikan kinerja,” tegasnya dalam keterangan resminya dikutip bekasiguide.com, Kamis 02 April 2026.

Esai

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.

Esai

Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Esai

Beberapa waktu sebelum itu, KPK telah mengamankan Bupati Rejang Lebong (Bengkulu), Muhammad Fikri Thobari, Bupati Pati (Jawa Tengah), Sudewo, Gubernur Riau, Abdul Wahid, Bupati Bekasi, Ade Kuswara, serta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.

Exit mobile version