Pemuda, Passion, dan Patient

Deni Ardini.

Pemuda adalah aset yang paling berharga dari sebuah organisasi, baik yang bersifat profit, non-profit, maupun negara. Tidak salah jika Founding Father sekaligus Presiden Republik Indonesia pertama, Bung Karno mengatakan, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Pemuda yang mengguncang dunia, bukanlah pemuda sembarangan. Diperlukan kualitas yang memadai untuk membuat sebuah perubahan di berbagai level kehidupan.

Pemuda lebih mengetahui zaman dibandingkan orang tua. Oleh karena itu, inovasi-inovasi selalu lahir dari pemuda. Mereka memiliki gagasan yang bahkan melampaui zamannya.

Akan tetapi, gagasan hanyalah gagasan. Seorang pemuda perlu passion agar segala gagasannya bisa teraktualisasikan menjadi sebuah karya. Karyalah yang menjadikan seseorang bermanfaat bagi lingkungannya. Karya-karya yang akhirnya membuat pemuda dikenang sepanjang masa. Karya monumental yang usianya lebih lama dari usia penciptanya.

Sebagaimana Apple terus hidup walau
Steve Job tidak lagi hidup. Namun, namanya masih terus melekat bersama Apple. Begitulah karya yang menggungcang dunia.

Passion

Membangun karya bukanlah pekerjaan yang mudah. Opportunis tidak melahirkan karya walau bisa menghasilkan banyak uang. Akan tetapi, karya lahir dari sebuah kecintaan seseorang kepada sesuatu. Para pelukis terkenal menghabiskan waktunya untuk melukis. Para penulis rela mencurahkan seluruh sumber daya untuk menghasilkan narasi yang menggugah. Buku-buku mereka menjadi
bukti kecintaan pada aktivitas menulis. Itulah passion.

Passion, yang biasa diartikan sebagai sebuah kecenderungan seseorang kepada sesuatu, bisa dapat lebih diartikan sebagai sebuah gairah. Gairah adalah keinginan, hasrat, dan keberanian yang kuat. Gairah itulah yang menjadikan para pelukis mampu bertahan di era gambar digital. Atau penulis buku yang terus berkarya, meski di era sosial media saat ini membuat orang menjauh dari buku. Tanpa passion, karya-karya mereka tak akan pernah lahir.

Gairah membuat pemuda mampu bertahan dalam merealiasikan ide, gagasan, dan mimpi-mimpinya. Gairah pula yang menjadikan pemuda selalu bersemangat menghadapi segala
tantangan. Tak ada kata menyerah bagi mereka yang memiliki passion.
Gairah itu pula yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang telah kehilangan jiwa mudanya. Pemuda boleh menjadi tua karena usia, tetapi jiwa yang tetap muda adalah yang lebih penting.

Patient

Tidak ada passion tanpa patient. Passion tidak mungkin bisa diaktualisasikan tanpa adanya kesabaran yang yang tinggi. Membuat passion menjadi sebuah karya, tidak mungkin berjalan lurus-lurus saja. Hambatan dan rintangan selalu hadir setiap saat. Godaan internal maupun
eksternal menjadi ujian yang harus dimenangkan.

Hambatan aktualiasi passion pada dasarnya adalah keyakinan dan konsistensi. Seorang pemuda
harus yakin passionnya penting dan bermanfaat bagi masyarakat. Pun, ia harus konsisten dalam setiap langkahnya. Godaan menjadi oportunis begitu kuat dalam perjalanan. Terlebih jika “rumput tetangga” terlihat lebih hijau. Maka ia akan beralih untuk menjadi orang lain, menjalani peran lain yang tidak sesuai dengan passionnya. Maka ia akan kehilangan karyanya.

Sebaliknya, dengan kesabaran, ia akan menemukan jalannya. Cepat atau lambat, sebuah karya menemukan pasarnya. Pendiri KFC Kolonel Sanders, bahkan harus menunggu sampai tua untuk menemukan kesuksesannya. Racikannya telah menjadi masterpiece ayam goreng. Seluruh dunia menirunya, tapi tak ada yang bisa mengalahkannya. Kesabaran atas passion memetik hasilnya.

Akhirnya, kesuksesan yang akan didapat pemuda adalah tersebab passion dan patient yang saling beriringan. Keduanya berjalan dengan langkah yang sama. Keduanya juga berada dalam satu tarikan nafas yang sama. Yang terhembus dari jiwa seorang pemuda.

Penulis : Deni Ardini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *