Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca Tebar Budaya Literasi di Masyarakat

Seorang pemuda sedang membaca buku di Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca di Pendopo Alun alun Kota Bekasi. (poto:Tiwi)

BEKASI- Budaya literasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia. Namun nyatanya, budaya membaca dan menulis kini sangat lah langka. Minimnya pengetahuan soal literasi dan rendahnya minat baca masyarakat ini, menggugah sekelompok pemuda di Kota Bekasi membuat gerakan sosial meningkatkan minat baca dan menciptakan para peminat baca baru lewat Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca.

Tio Falwaguna selaku Penggagas Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca menjelaskan, Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca di bentuk pada 8 April 2018 lalu. Arti dari Riung Baca sendiri kata dia berkumpul bersama dengan kegiatan membaca buku. “Titik kumpul Perpustakaan jalanan ini di Pendopo Alun alun Kota Bekasi mulai dari pukul 16:00 WIB sampai dengan selesai,” terang dia kepada bekasiguide.com pada Rabu (11/09/2019).

Menurut Tio, Riung Baca hadir untuk memperjuangkan literasi dengan kegiatan utamanya yakni Perpustakaan Jalanan dengan menghadirkan buku buku terbaru mengikuti perkembangan. Riung Baca juga mempertahankan para peminat baca buku yang sudah ada melalui peminjaman buku buku secara gratis, dan tentunya dengan komitmen yang kuat.

“Riung Baca akan menciptakan peminat baca buku baru melalui diskusi terbuka atau pendekatan secara persuasif untuk mengajak opini khalayak luas tentang manfaatnya membaca buku,” kata dia.

Tio melanjutkan, tujuan lain di dirikannya Riung Baca agar khalayak luas khusunya anak-anak, remaja dan dewasa bisa mengakses buku buku secara gratis. Kegiatan dari Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca selain memberikan baca buku gratis juga memberikan ilmu lainnya seperti baca puisi, belajar menulis, dan sesi OBSERVASI (Obrolan Santai Bervariasi).

“Dan, tak kalah penting kegiatan lainnya adalah membuat sesuatu yang tujuannya yakni bersinergi dengan PERPUSJAL (Perpustakaan Jalanan),” ujarnya.

Tio mengungkapkan,  untuk keberlangsungan komunitasnya operasional dana maupun buku yang di sediakan masih berasal dari kolektif seluruh anggota. Dan untuk buku buku bacaan sendiri sebagian besar koleksi pribadi ditambah dari para tamu. Untuk itu, Tio juga berharap ada peran Pemerintah kota khususnya Dinas Perpustakaan Daerah mengingat pertumbuhan minat baca khususnya untuk anak anak berusia delapan tahun hingga remaja berdasarkan data formulir peminjaman di Riung Baca masih minim.

“Kami selalu kedatangan orang-orang dewasa, tapi memang formulir peminjaman tidak kami jadikan acuan untuk mematenkan nilai minat baca di Kota Bekasi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Tio memiliki harapan agar anak anak muda Bekasi lebih peka terhadap minat literasi dan sastra dengan cara mengunjungi perpusatakaan jalanan atau memberanikan diri untuk gabung ke dalam komunitas literasi dengan begitu akan panjang umur.

Sekadar informasi, buku buku yang tersedia saat ini di Komunitas Perpustakaan Jalanan Riung Baca  diantaranya buku anak anak, novel, cerpen, puisi, sejarah, biografi, filsafat, religi, self improvment, dan buku buku panduan untuk traveling. Target pembacanya sendiri untuk anak anak usia 9 tahun, remaja, dewasa dan buku buku untuk orang tua. (Tiwi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *