Kekeringan yang melanda wilayah desa Sindangjati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, tahun ini disebut warga sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Salah seorang warga, Kurniasih (34), mengaku kondisi kekeringan sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Selama itu, ia bersama keluarganya bergantung pada bantuan air bersih dan air dari kali untuk kebutuhan rumah tangga.
“Kami mengambil air kapan saja, bisa subuh atau pagi tergantung kondisi. Sekali ambil bisa tiga sampai enam jeriken. Kalau tidak sempat, kami beli satu toren air Rp60 ribu,” ujarnya dikutip Bekasiguide.com, Kamis 30 Juli 2026.
Menurutnya, kebutuhan air keluarganya dalam sehari hampir mencapai satu toren. Air tersebut digunakan untuk memasak, mandi, hingga mencuci pakaian sehingga pengeluaran keluarga ikut meningkat selama musim kemarau.
Kurniasih mengatakan kekeringan sebenarnya terjadi setiap tahun. Namun, tahun ini kondisinya jauh lebih parah karena sumur warga cepat mengering saat hujan tidak turun.
“Kalau sumur benar-benar kering, kami beli air galon isi ulang Rp6 ribu. Satu galon hanya cukup untuk memandikan anak, jadi harus beli beberapa galon,” katanya.
Kurniasih mulai mengantre bantuan air bersih sejak pukul 12.30 WIB. Dari pendistribusian tersebut, keluarganya memperoleh sekitar tujuh jeriken air bersih.
“Pipa sudah dipasang, tetapi air yang keluar hanya setetes atau dua tetes saja,” ungkapnya.
Ia berharap bantuan tersebut dapat terus disalurkan secara rutin sedikitnya dua kali dalam seminggu hingga jaringan air bersih berfungsi normal atau musim hujan tiba.
“Saya bersyukur karena sudah tiga kali menerima bantuan air bersih. Selama jaringan PDAM belum berfungsi dan hujan belum turun, saya berharap bantuan air bersih dari PDAM dapat dikirim minimal dua kali seminggu agar kebutuhan warga tetap terpenuhi,” tutupnya.








