Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Esai

Saat Anak Diwisuda Hafal Alquran (Catatan diri dari Haflah Alquran PP Nurul Quran 1448 H)

×

Saat Anak Diwisuda Hafal Alquran (Catatan diri dari Haflah Alquran PP Nurul Quran 1448 H)

Sebarkan artikel ini

MENGHADIRI haflah Alquran kemarin ini, sebenarnya tak ubah sebuah kenangan. Kenangan saat empat dan dua tahun lalu kami mengalaminya. Pengalaman luar biasa sebagai orangtua yang anaknya sudah diberi syahadah hafal Alqur’an.

Gemuruh hati orangtua sebenarnya sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya. Saat anak sudah mulai persiapan ikut khataman. Saat ikut simakan 30 juz. Dan puncaknya saat ini, malam ini, ketika anak kita akan naik di panggung syahadah. Panggung yang bermakna ridho guru bahwa anak kita sudah hafal quran. Subhanallah.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Saya sangat memahami, gemuruh hati para walisantri khotimin. Mereka diletakkan persis di depan panggung. Mungkin agar jelas menyaksikan anaknya diwisuda. Nampak dari wajah mereka yang masih tak percaya. Tapi juga ada wajah kepuasan. Wajah mukjizat yang tak menyangka anaknya bisa sejauh ini. Wajah keharuan yang seakan ingin memeluk mereka, sambil membisikkan di telinga anaknya; terima kasih nak!

Para walisantri ini meluncurkan doa yang melangit tinggi. “Ya Allah, jadikan anak anak kami selalu dalam ridho Mu.”

Sudah tak terhitung berapa kali airmata terbendung. Membasahi hati bersama lantunan shalawat. Yah… Masih seperti tak menyangka.

Perwakilan walisantri, Ahmad Junaedi, dalam sambutan menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru, KH Ahmad Fayumi Alhafidz. Sungguh luar biasa jasa guru, yang tak mungkin bisa terbalaskan.

Gemetar hebat hati biasa terasa saat kaki anak mulai menaiki tangga panggung. Saat disebut namanya berserta ‘bin’ nama kita. Semua seperti tak berarti. Selain karunia yang tak terhingga. Rasa syukur tak putus keluar dari mulut. Alhamdulillah ya Allah…

Meski luar biasa, tapi sungguh tak ada sedikitpun rasa sombong, apalagi ujub. Yang ada hanyalah rasa syukur akan karunia ini.

Jujur, sejatinya kita malu karena kita tak mampu mbalas jasa guru dengan balasan yang wajar. Kami justru malu karena sering terlambat membayar SPP pondok. Kita malu karena tak mampu membalas jasa para staf. Malu.

KH. Mu’tashim Billah, pengasuh PP Pandanaran, Yogyakarta, saat memberikan motivasi dan doa, menyampaikan khabar jika luar biasa orang yang hafal Alquran itu mendapat hidayah yang luar biasa. Di saat anak2 lain sulit diajak mengaji, namun anak-anak kita justru bisa hafal Alquran. Dan disaat banyak orangtua yang bangga akan anaknya di bidang dunia, tetapi orangtua di sini justru memilih memondokkan anaknya di pesantren.

Kyai Mutashim sedang memberi motivasi kepada para penghafal quran agar tidak berhenti belajar lebih dalam. Harus bisa lebih memahami dan -ini yang penting- mengamalkan dan mengajarkannya.

Perjuangan khatimin 30 juz bilghoib ini sungguh kuar biasa. Mereka telah melewati serangkaian test dan tugas berat. Seperti harus sudah disimak hafalannya oleh guru dan tim. Jika ada kesalahan melebihi batas, maka dia tak lolos. Harus mengulang.

Kyai ini juga memotivasi bahwa perjuangan orangtua dalam membiayai anaknya tak akan pernah merugikan. Tak akan mengecewakan.

Saat nanti, ketika di yaumil akhir, semua orang sibuk dengan urusannya, para ahli Alquran ini justru ‘ditegur’ oleh malaikat. Kenapa kamu sendiri? Mana orangtuamu? Ajak mereka masuk surga bersamamu.

Guru Karawang, KH Ahmad Syamsuri Alhafidz, mengatakan sungguh beruntung orangtua yang anaknya hafal Alquran. Dan jangan sekali kali takut terkait rizki jika senang kepada Alquran. “Pasti sudah dijamin,” katanya.

Saya pun memandangi wajah2 para pecinta Alquran di area panggung. Wajah teduh guru. Wajah mulia para kyai. Semoga beliau selalu sehat dan berkah manfaat ilmunya. Bersama Alquran.

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad..

 

Chotim Wibowo

(Pimpinan Redaksi)

Example 120x600
Esai

“Melon ini insyaAllah berkah. Selain berkualitas, juga berkah karena diberi doa selama perawatan dan shalawatan,” katanya.

Esai

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.