Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memperkuat sistem biosekuriti nasional melalui peningkatan kompetensi dan integritas sumber daya manusia (SDM), khususnya dokter hewan karantina.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Dokter Hewan Karantina Indonesia (IDHKI) ke-VIII di Bekasi, Kamis 3 September 2026.
Munas IDHKI ke-VIII tahun ini mengusung tema One Profession, One Commitment – Sinergi Menjaga Biosekuriti Nasional.
Menurut Sriyanto, profesi dokter hewan karantina memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam melindungi Indonesia dari berbagai ancaman biologis yang dapat berdampak terhadap kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, perekonomian, ketahanan pangan, hingga perdagangan nasional.
Ia mendorong para dokter hewan karantina untuk terus meningkatkan kompetensi seiring perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika penyakit hewan, perdagangan internasional, serta perkembangan teknologi dan digitalisasi.
“Secanggih apa pun teknologi dan sistem, kualitas keputusan tetap ditentukan oleh kompetensi dan integritas manusianya. Oleh karena itu, integritas merupakan fondasi utama kepercayaan publik dalam penyelenggaraan karantina,” ujar Sriyanto dikutip Bekasiguide.com, Kamis 3 September 2026.
Selain kompetensi, Sriyanto menekankan pentingnya menjaga integritas dalam setiap pelaksanaan tugas dan pengambilan keputusan di bidang karantina.
Menurutnya, setiap tindakan dan keputusan yang diambil petugas karantina memiliki konsekuensi besar terhadap kepentingan negara.
Sriyanto berharap IDHKI dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun budaya profesional dan berintegritas di lingkungan Badan Karantina Indonesia.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat sistem biosekuriti dengan berkaca pada kemunculan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2022.
Setelah Indonesia sempat dinyatakan bebas PMK selama hampir tiga dekade, wabah tersebut kembali muncul dan menyebabkan kerugian ekonomi nasional yang mencapai sekitar Rp9 triliun.
“Krisis tersebut membuktikan bahwa satu celah saja pada pertahanan biologis mampu merembet dan menghancurkan rantai produksi, pasar perdagangan, hingga stabilitas pangan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Muhammad Munawaroh, mengatakan dokter hewan karantina memiliki peran strategis dalam menjaga pintu-pintu pemasukan Indonesia dari berbagai ancaman penyakit.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi semakin kompleks seiring tingginya lalu lintas hewan dan produk hewan, ancaman penyakit menular, perubahan iklim, perdagangan global, hingga kebutuhan menjaga keamanan dan ketahanan pangan nasional.
Muhammad berharap para dokter hewan karantina terus menjaga kompetensi, integritas, dan independensi dalam menjalankan tugas.
Munas IDHKI ke-VIII diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarprofesi dalam menjaga biosekuriti nasional serta membangun sistem karantina Indonesia yang semakin profesional dan adaptif terhadap tantangan masa depan.








