Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Oloan Nababan, menyoroti masih banyaknya kekurangan mebeler di sekolah dasar (SD) Kota Bekasi yang hingga kini belum dapat terpenuhi secara maksimal.
Oloan menegaskan, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan harus mengupayakan solusi secara optimal untuk mengatasi persoalan tersebut.
Menurutnya, terdapat sejumlah opsi yang bisa ditempuh, mulai dari pembelian mebeler baru hingga perbaikan mebeler lama yang kondisinya masih memungkinkan digunakan kembali.
“Opsinya tentu ada, misalnya pembelian baru dengan perencanaan yang baik. Kita juga pernah berdiskusi dengan Dinas Pendidikan agar mebeler yang ada, kalau masih memungkinkan, diperbaiki,” ujar Oloan dikutip bekasiguide.com, Kamis 05 Februari 2026.
Ia menekankan, seluruh langkah tersebut harus berbasis data yang valid dan direncanakan secara matang, baik dari sisi jumlah maupun kualitas mebeler yang dibutuhkan. Hal itu penting mengingat keterbatasan anggaran daerah yang tidak hanya dialokasikan untuk sektor mebeler, tetapi juga kebutuhan lain.
Oloan menyebutkan, pada tahun anggaran 2026 telah dialokasikan dana sekitar Rp35 milyar untuk pengadaan 16 ribu mebeler. Namun, ia mengakui anggaran tersebut belum mampu menutup seluruh kebutuhan sekolah di Kota Bekasi.
“Dengan kondisi sekarang, anggaran itu tetap tidak cukup,” katanya.
Karena itu, ia menilai penyelesaian menyeluruh persoalan mebeler tidak mungkin tuntas pada 2026. Harapannya, pembahasan anggaran 2027 yang akan dimulai pada Maret–April mendatang dapat lebih difokuskan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kita akan dorong di perencanaan 2027 supaya penyelesaian mebeler ini bisa segera teratasi. Harapannya 2027 bisa maksimal,” ucapnya.
Selain mebeler, Oloan juga menyoroti kondisi gedung-gedung sekolah yang masih banyak membutuhkan perbaikan. Ia menyebut hal tersebut sebagai pekerjaan rumah bersama yang perlu segera ditangani.
Komisi IV DPRD Kota Bekasi pun telah mendorong Dinas Pendidikan untuk menyusun program identifikasi gedung sekolah yang menjadi prioritas perbaikan.
“Yang tahu data kan Dinas Pendidikan. Maka kami mendorong agar ada identifikasi gedung-gedung sekolah yang memang prioritas untuk diperbaiki,” jelasnya.
Tak hanya sarana dan prasarana, persoalan kekurangan tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Saat ini, Kota Bekasi disebut masih kekurangan sekitar 2.500 guru.
Oloan menyampaikan, dalam kondisi tersebut Komisi IV mendorong optimalisasi guru yang ada dengan tetap memberikan penghargaan, mengingat banyak dari mereka sudah bekerja melebihi beban waktu normal.
Sementara itu, pengadaan guru baru belum bisa dilakukan karena masih terbentur regulasi. Untuk mengatasi hal tersebut, Komisi IV tengah membahas berbagai kemungkinan terobosan, termasuk peluang melibatkan perguruan tinggi dan mahasiswa.
“Yang pasti, untuk kondisi sekarang kita maksimalkan apa yang ada dan kita harus menghargai itu,” pungkas Oloan.








