https://www.fapjunk.com https://pornohit.net london escort london escorts buy instagram followers buy tiktok followers
Rabu, Februari 21, 2024
BerandaEsaiTerbunuhnya Prabu Salya

Terbunuhnya Prabu Salya

-

Tipu muslihat yang sistematis, bisa jadi, pada akhirnya menyulut tindakan aniaya (zalim) yang berarti melampaui batas, melanggar ketentuan, keterlalun atau menempatkan sesuatu permasalahan tidak pada proporsinya.

Kezaliman dapat diartikan sebagai perbuatan yang melampaui batas-batas kemanusiaan dan menentang atau menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama (ketentuan produk manusia) maupun yang telah ditetapkan Tuhan.

Prilaku ini yang dalam cerita pewayangan akhirnya membunuh Prabu Salya. Ia telah berbuat zalim dengan menebar penyakit mematikan. Begini cukilan ceritanya; Nun, di arena Kuruksetra tampak ribuan manusia menggelepar. Mereka serempak batuk-batuk sambil memegang dada yang panas dan kepala yang tiba-tiba menjadi pusing, lalu ambruk di tanah.

Prabu Salya tersenyum menyaksikan kejadian yang mengerikan itu. Tujuannya adalah, menunggu lawan seimbang yang akan dimajukan oleh pihak Pandawa. Pun, ajian pamungkasnya itu dikeluarkan semata-mata untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Dia tahu, bahwa ajian Candrabirawa miliknya itu tentu ada yang bisa menangkalnya. Namun,  dia tak tahu siapa yang dapat menanggulanginya.

Di seberang lautan manusia yang sedang berperang itu, dengan pandangan batinnya yang tajam, Kresna menyaksikan betapa mengerikan ajian Candrabirawa. Yang semakin lama terus membelah diri dari satu menjadi dua, empat, delapan, enambelas hingga kelipatannya dalam menjangkiti semua orang.

Di sebelahnya, para Pandawa menatap cemas, menyaksikan ribuan manusia menjadi korban keganasan mahluk tak kasat mata itu.

“Kini, saatnya kau maju ke Medan peperangan, wahai adikku Yudhistira. Tak ada yang dapat menandingi kakek Nakula dan Sadewa itu kecuali dirimu.”

“Lihatlah perbuatannya yang begitu kejam membantai orang-orang tanpa belas kasihan lagi,” kata Krisna.

Yudhistira yang berdiri di sebelahnya, terhenyak ketika namanya disebut.

“Mengapa harus aku yang maju, Kangmas Kresna?” tanya Yudhistira.

“Apa yang kau lihat itu, hai adikku?” Kresna balik bertanya.

“Aku melihat berjuta-juta mahluk berupa raksasa kerdil sedang menyerang banyak prajurit. Tidak hanya dari pasukan kita saja yang diserang, tapi pasukan Kurawa pun turut diserbunya. Aneh!,” jawab Yudistira.

“Itulah kedasyatan Candrabirawa. Prabu Salya dulu mendapatkannya dari Resi Bagaspati, mertuanya, dan mertuanya itu memperolehnya dari wejangan arwah Sukrasana saat dia bertapa.”

“Hanya manusia yang berjiwa tenanglah yang sanggup menghentikan.”

“Majulah, hadapi kakekmu itu tanpa harus melawan. Turuti apa yang dikehendakinya. Bawalah panahku ini jika beliau memang menghendakinya,” kata Krisna.

Yudhistira menerima sebuah panah bermata cahaya dari tangannya, lalu maju ke tengah kecamuk perang yang mengerikan dan aneh itu.

Dada Prabu Salya bergetar ketika Yudhistira maju dihadapannya dalam jarak beberapa puluh meter dalam sikap menyebah sebagai tanda bakti dan hormat.

“Mengapa yang maju justru engkau, hai anakku Yudhistira? Aku menginginkan yang melawanku adalah adikmu si Bima yang gagah perkasa atau Arjuna yang pandai dalam hal memanah,” kata Salya.

“Aku datang menghadap hanya minta tolong untuk menghentikan penyakit yang kau tebarkan itu, kek. Aku tak tega menyaksikan ribuan orang yang menjadi korban keganasannya.”

“Kalau kau tak mau, segera bunuhlah aku daripada orang yang tak berdosa itu terbunuh.”

“Jika aku mati, maka pihak Pandawa kalah. Itu sudah cukup,” jawab Yudhistira.

“Oh, Yudhistira. Tidak semudah itu dalam peperangan ini. Jika kau ingin mati, maka panahlah aku dengan senjata di tanganmu itu, biar aku pun akan memanahmu dengan senjataku,” kata Prabu Salya.

Maka, dengan setengah hati Yudhistira menyanggupi tantangannya.

Senjata CakraBaskara pemberian Kresna dilesatkan tanpa semangat, pun tak ditujukan ke arah lawannya melainkan hanya menghadap ke bawah.

Matanya terpejam ketika senjata itu melesat lemah dari gandewa di tangannya.

Ajaib, panah itu justru melesat secepat kilat ketika terantuk tanah dan menghujam tepat  di dada Prabu Salya yang meremehkan semangat perang Yudhistira si lelaki lemah lembut itu.

Terdengar suara menggelegar dan seketika dia tersungkur tewas.

Pasukan manusia kerdil tak kasat mata yang sedang menyerang semua orang itu menjadi terkejut dan menghentikan perbuatannya.

Tampaklah manusia dengan sinar suci berdiri, dengan tenang hingga membuat mereka menjadi lemah dan akhirnya musnah.

Sejak kematian Prabu Salya, maka berangsur-angsur wabah aneh itu lenyap.(Imam Trikarsohadi – Pemimpin Redaksi).

Related articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
spot_img

Latest posts