https://www.fapjunk.com https://pornohit.net london escort london escorts buy instagram followers buy tiktok followers
Rabu, Februari 21, 2024
BerandaMetropolitanIni Hasil Diagnosa Balita di Kabupaten Bekasi Makan Kertas dan Styrofoam

Ini Hasil Diagnosa Balita di Kabupaten Bekasi Makan Kertas dan Styrofoam

-

CIKARANG- GI (3), balita yang gemar makan kertas, sendal hingga styrofoam di kampung Bulak Sukadana RT02 RW05, Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi dinyatakan mengalami gangguan makan pica.

Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan medis di RSUD Cabangbungin pada Kamis (24/3) kemarin. Gangguan makan pica ialah memiliki keinginan mengonsumsi sesuatu yang tidak memiliki nilai gizi.

“Gangguan makan pica biasanya anak-anak makan benda-benda yang tidak wajar, seperti batu, kerikil, kertas, pasir, puntung rokok dan lainnya,” kata Dokter Umum RSUD Cabangbungin Kabupaten Bekasi, Ari Afandi, Jumat (25/3).

Meski begitu, GI untuk saat ini dinyatakan sehat dan aktif. Pihak dokter yang memeriksa tidak mendapati keluhan seperti batuk dan pilek.

“Untuk saat ini, anak ini sehat dan aktif. Tidak ada keluhan demam, batuk dan pilek. Gangguan pencernaan seperti mencret atau sakit perut juga tidak ada. Gangguan lain juga saat ini tidak ada,” ucapnya.

Tim dokter yang memeriksa kondisi balita GI melanjutkan dengan evaluasi pemeriksaan penunjang. Seperti pemeriksaan darah, urine dan feses.

“Pada pemeriksaan cek darah kami temukan adanya anemia defisiensi zat besi, sel darah merahnya rendah, kadang suplemen zinc-nya bisa turun,” tuturnya.

Sedangkan untuk pemeriksaan lainnya seperti enzim hati, ginjal dan urine dinyatakan masih dalam batas normal.

“Untuk gangguan makan pica ini tidak ada obat, jadi melakukan terapi perilaku. Untuk sampai ke langkah itu harus ditentukan dulu penyebab gangguan makan pica ini apa aja, biasanya bisa terjadi pada anak yang autisme, anak dengan OCD, atau anak dengan disabilitas intelektual,” ungkapnya.

Saat ini GI diberikan suplemen zinc dan obat untuk mengobati keluhan anemia sambil menunggu dirujuk ke psikiater atau psikolog anak.

“Jadi kita kasih obat untuk persiapan dirujuk ke psikiater anak atau psikolog anak,” ucap Ari.

Dia mengatakan, untuk saat ini secara fisik tidak ada kerusakan pada organ tubuh GI. Namun kebiasaan mengonsumsi benda-benda yang tidak wajar itu bisa menyebabkan kerusakan di beberapa bagian tubuh.

“Bagian oral bisa rusak, gusi bengkak atau gigi bisa patah karena makan benda-benda yang keras. Kalau misalnya makan batu, bisa menyebabkan lecet di tenggorokan, jadi anaknya bisa sakit kalau telan makanan,” katanya.(kendra)

Related articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
spot_img

Latest posts