“Titik Buta”Atau The Blind Spot Dalam Karir, Seberapa Penting Untuk Kita Ketahui?

Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd (Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah Batam/Dosen Pasca Sarjana Universitas Terbuka/Dosen Ibnu Sina Batam).

Ketika seseorang menjalani karir puluhan tahun, terkadang lupa bahwa ada hal tertentu yang cukup penting. Bahkan dapat menentukan perjalanan karir kita.  Titik Buta atau biasa disebut “The Blind Spot” adalah kelemahan-kelemahan kita atau bahkan juga dapat berupa kelebihan kita yang terkadang kita tidak dapat melihatnya sendiri. Maka butuh orang lain untuk mengingatkan, mengontrol atau memberitahu pada saat kita salah atau hampir keluar koridor dari apa yang seharusnya kita lakukian.

The Blind Spot awalnya adalah istilah yang sering kita dengar di bidang otomotif tentunya karena Blind Spot secara harfiah berarti ‘titik buta’. Istilah Titik Buta atau  Blind Spot berati area yang tidak terlihat oleh pengemudi.Atau lebih mudahnya dapat dikatakan sederhana,  no zone ini diartikan sebagai bagian dari sekeliling yang tidak bisa terlihat pada saat kita mengemudikan mobil, kendaraan.

Titik butaatau Blind Spot dapat terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

  • Dimensi kendaraan ─ Semakin besar dimensi kendaraan, maka semakin besar area titik buta atau sebaliknya.
  • Kurangnya perhatian pengendara terhadap lingkungan sekitar.
  • Jangkauan spion yang terbatas.
  • Kondisi lalu lintas atau lingkungan sekitar ─ Misalnya, posisi kendaraan saat berada di persimpangan jalan, tikungan, tanjakan, lalu lintas padat, area dengan kondisi berdebu, area berbukit, area padat bangunan, area perumahan, kendaraan lain yang parkir di bahu jalan atau yang tengah melintas, dll.
  • Kondisi cuaca ─ Misalnya, hujan atau kabut dapat mengurangi visibilitas pengendara.
  • Muatan kabin yang bertumpuk ─ Bisa menimbulkan titik buta ke area belakang.

Dengan kondisi seperti tersebut di atas maka jika tidak hati-hati dengan titik buta, maka bukan tidak mungkin kita akan menabrak kendaraan yang berada di belakang atau di samping yang tidak terlihat dari kaca spion.

Kembali kepada terkait dengan karir seseorang, Blid Spot, dapat diartikan adalah kelemahan kita secara karakter, knowledge, kompetensi atau bahkan secara manajemen yang terkadang kita terlupakan untuk melihat sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah jebakan untuk diri kita sendiri. Maka kita butuh orang yang kita percaya agar dapat selalu mengingatkan apa yang terlupa atau bahkan apa dari kelemahan kita atau kekurangan kita yang “mengancam titik aman atau nyaman” kita. Agar tidak melupakan,  terus memotivasi dan up grade / meningkatkan kemampuan, skill/ ketrampilan ataupun kompetensi diri kita.

Terkadang setelah segala sesuatu terjadi, baru kita merasa ditegur, oh ternyata selama ini saya tidak boleh begini dan begitu…dan ketika ada rekan kerja yang mengatakan, apa yang Anda buat adalah sebuah kesalahan, baru kita terhenyak untuk memperbaikinya.

Beruntung Tuhan mengingatkan bahwa orang di dekat kita ikut mengontrol apa yang tak dapat kita lihat dari kekurangan kita, sehingga kita harus berterimaksih kepadanya, agar segalanya tidak lebih buruk lagi. Dan dengan hati terbuka tentunya.

Penulis pernah membaca sebuah artikel tantang petinju, Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut. Kalau disuruh adu jotos, pasti babak belur tuh pelatihnya.

Kalau begitu tentu kita bertanya-tanya, kenapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia lebih hebat dari pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya. lebih hebat, tapi karena ia butuh seseorang untuk melihat hal-hal yang tidak dapat dia lihat sendiri. Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan “Titik Buta” atau “Blind Spot“. Kita hanya bisa melihat “Blind Spot” tersebut dengan bantuan orang lain. Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.

Begitu juga kita, ada wakil kita, ada bawahan dan atasan kita dalam karja / karir kita, inilah pentingnya kita mengetahui apa itu Blid spot dan pentingnya dalam perjalanan karir dan bahkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan, karena kita makhluk social yang butuh orang lain dalam bersosialisasi.

Menurut penulis ada beberapa hal yang berpotensi akan menjadi Titik Buta atau Blind Spot dalam kariri kita, misalnya :

  1. Jabatan yang nyaman
  2. Teman seprofesi yang tidak pernah mengkritik
  3. Merasa paling hebat
  4. Merasa paling berjasa besar dalam keberhasilan kemajuan perusahaan
  5. Tidak upgrade wawasan atau pengetahuan
  6. Merasa diperlukan orang banyak
  7. Dan yang paling penting yang sangat berpotensi menjadi titik buta seseorang dalam berkarir adalah rasa sombong dalam diri sendiri.

Maka jangan pernah memandang rekan kerja yang kritis dan atasan yang cerewet atau terlalu banyak tuntutan merupakan sebuah hal yang menurunkan motivasi kita dalam peningkatan karir, justru hal tersebut akan menjadi cambut penirgingat agar kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Secara bijak kita dapat terus melakukan evaluasi diri sendiri sehingga kita tidak akan mengulang kesalahan yang terjadi dan seperti pepatah mengatakan, bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.

Satu hal dalam perjalan karir adalah hal patut kita syukuri bahwa pencapaian kita dalah merupakan kolaborasi yang apik dan indah dari banyak bawahan atau atasan atau rekan kerja selevel yang ,mempunyai kompetensi atau kemampuan dalam berbagai bidang namun dapat menjadi teamwork yang solid dalam perusahaan atau lingkungan di mana kita bekerja.

Apalagi kondisi di masa pandemi Covid ini belum juga berakhir. Tingkat pengangguran makin banyak. Seperti dilansir dari media Batam Pos hari ini, 7/11/2020, Tingkat Pengangguran Terbuka ( TPT) di Kepulauan Riau terus bertambah dan mencapai angka peningkatan 2,85% dibanding bulan Agustus 2019. Hingga saat ini tercatat TPT di Kepulauan Riau mencapai angka 10,34%, atau sebanyak 288.549 orang.

Maka sebagai evaluasi diri kita sendiri, harus tetap memberikan yang terbaik apa yang menjadi kompetensi kita dalam bekerja, dan meluruskan niat kita agar segala sesuatunya berjalan dengan baik. Tak ada gading yang tak retak, tetapi dari pengalaman dan pengetahuan yang terus kita asah akan membuat kita dan memantaskan diri kita menjadi survivor di masa pandemi ini. Terus berjuang dengan apa yang terbaik yang kita punyai.

Pada akhirnya istilah penulis ingin mengatakan “ pada saat kita merasa aman pada titik itulah kita tidak aman”. Dengan berbagi dan menjadi pengingat dan pensupport satu sama lain di lingkungan kerja akan tercipta budaya  kerja yang baik, solid dan menyenangkan serta hebat bersama. Mensyukuri beberapa amanah pekerjaan yang ada pada kita di tengah saudara -saudara kita yang masih banyak tidak seberuntung kita.

Semoga apa yang penulis paparkan  akan menjadi manfaat untuk kita semua, bukan hanya di lingkungan kerja tetapi lebih kepada penghargaan kepada sesama kita sendiri.

Penulis :

Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd

(Direktur Pendidikan Sekolah Islam Nabilah Batam/Dosen Pasca Sarjana Universitas Terbuka/Dosen Ibnu Sina Batam/Dosen Universitas Batam).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *