Warga di sekitar pondok pesantren Dar et Tauhid, Jakasetia, Bekasi Selatan yang menjadi lokasi kasus pelecehan seksual santriwati meminta agar lembaga pendidikan tersebut ditutup. Permintaan itu muncul karena warga khawatir kejadian serupa kembali terulang dan menimbulkan korban baru.
Seorang warga berinisial N mengatakan, warga merasa khawatir setelah kasus dugaan pelecehan tersebut terungkap. Terlebih, sejumlah santri disebut telah dijemput keluarganya karena merasa takut.
“Warga berharap pondok pesantren tersebut ditutup. Kami takut kejadian seperti ini terulang lagi,” ujar N dikutip Bekasiguide.com, Senin 12 Oktober 2026.
Menurut N, selama ini aktivitas di lingkungan pondok pesantren terlihat berjalan normal. Warga juga mengaku tidak pernah menerima aduan dari para santri mengenai dugaan pelecehan sebelum kasus tersebut mencuat.
Karena itu, warga mengaku tidak menyangka peristiwa tersebut diduga terjadi di lingkungan pondok pesantren yang selama ini dikenal memiliki aktivitas pendidikan dan keagamaan.
N menuturkan, berdasarkan informasi yang diketahuinya, jumlah korban yang melapor saat itu diperkirakan sekitar 14 orang. Namun, ia mendengar jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.
Ia berharap aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut hingga tuntas agar perkara menjadi jelas dan kejadian serupa tidak terulang.
“Kami berharap kasus ini diusut sampai tuntas. Kami khawatir kalau tidak ditangani sampai tuntas, kejadian seperti ini bisa terulang lagi,” katanya.
Selain meminta penutupan pondok pesantren, warga juga mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya aksi massa yang berujung pada perusakan atau keributan di lokasi.
Untuk itu, N berharap pihak kepolisian terus melakukan pengawasan dan pengamanan di sekitar pondok pesantren guna menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami berharap pihak kepolisian ikut mengawasi dan menjaga lokasi agar tidak terjadi perusakan atau keributan,” pungkasnya.







