Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Esai

Akankah Kota Bekasi Menjadi Gotham City?

×

Akankah Kota Bekasi Menjadi Gotham City?

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kota Bekasi, Muhammad Kamil. (Photo: dok)

Kota Bekasi sedang menghadapi persoalan yang tidak boleh dianggap sepele yaitu kriminalitas dan gangguan keamanan yang semakin membuat masyarakat resah.

Apakah kita akan membiarkan Kota Bekasi bergerak menuju kondisi seperti Gotham City—kota yang identik dengan kejahatan, ketakutan, dan lemahnya rasa aman? Tentu Gotham City hanyalah sebuah gambaran fiksi. Tetapi jangan sampai persoalan keamanan di Kota Bekasi justru membuat masyarakat mulai merasakan realitas yang serupa yaitu takut keluar malam, khawatir anak pulang sekolah, cemas ketika melintas di jalan tertentu, dan waswas ketika berada di ruang publik.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Ini bukan lagi sekadar persoalan kriminalitas. Ini adalah persoalan rasa aman warga negara. Ketika rasa aman masyarakat mulai terganggu, pemerintah tidak boleh memilih diam. Jangan hanya membangun kota, bangun juga rasa aman.

Dalam beberapa kesempatan, saya sudah menyampaikan bahwa ukuran kota yang nyaman bukan hanya diukur dari pembangunan infrastrukturnya; jalan yang bagus, trotoar yang nyaman, taman kota yang indah, atau pembangunan fasilitas publiknya.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar yaitu menghadirkan rasa aman. Apa artinya kota memiliki infrastruktur yang bagus jika masyarakat takut menggunakannya? Apa artinya ruang publik dibangun dengan anggaran besar jika warga takut datang pada malam hari? Apa artinya kita berbicara tentang Kota Bekasi sebagai kota metropolitan jika persoalan keamanan lingkungan tidak mendapatkan perhatian yang serius? Kota yang nyaman bukan hanya kota yang indah dilihat. Kota yang nyaman adalah kota yang aman untuk ditinggali.

Yang sering menjadi keprihatinan saya adalah ketika respon pemerintah yang masih lambat dalam mengatasi persoalan kriminalitas di masyarakat. Kita tidak boleh memiliki pola pikir untuk menunggu kejadian dulu, baru bertindak.

Jangan menunggu ada korban baru bergerak. Jangan menunggu kasus viral baru dilakukan patroli. Jangan menunggu masyarakat turun ke jalan baru keamanan menjadi perhatian. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang mampu mencegah, bukan hanya bereaksi setelah adanya kejadian.

Setiap kasus kriminalitas pasti akan ada korbannya. Ada keluarga yang kehilangan rasa aman. Ada orang tua yang trauma. Ada anak muda yang masa depannya terganggu. Ada masyarakat yang akhirnya memilih membatasi aktivitas karena takut menjadi korban kejahatan.

Bekasi Butuh Peta Keamanan

Oleh karena itu, saya mendorong Pemerintah Kota Bekasi untuk mulai membangun sistem keamanan kota yang terintegrasi dan berbasis data. Kita harus tahu secara jelas di mana titik rawan kriminalitas? Di mana lokasi rawan tawuran? Di mana titik rawan begal dan kejahatan jalanan? Wilayah mana yang minim penerangan? Di mana CCTV harus ditambah? Kapan patroli harus ditingkatkan? Bagaimana koordinasi Pemkot, kepolisian, Satpol PP, kecamatan, kelurahan, hingga masyarakat? Semua harus memiliki target, indikator, dan evaluasi yang jelas. Jangan sampai setiap terjadi kejahatan pemerintah hanya sibuk memberikan imbauan. Warga membutuhkan tindakan nyata pemerintah.

Keamanan Bukan Hanya Urusan Polisi

Saya ingin menegaskan bahwa persoalan keamanan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada kepolisian. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung keamanan; Penerangan jalan adalah bagian dari keamanan.

Tata ruang adalah bagian dari keamanan. CCTV adalah bagian dari keamanan. Pengelolaan ruang publik adalah bagian dari keamanan. Pemberdayaan pemuda adalah bagian dari keamanan. Penguatan lingkungan RT/RW juga bagian dari keamanan. Artinya, keamanan harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan Kota Bekasi, bukan program yang muncul ketika masalah sudah terjadi.

Ada satu hal yang paling berbahaya dalam persoalan keamanan kota yaitu ketika masyarakat mulai merasa bahwa mereka harus menjaga dirinya sendiri karena pemerintah dianggap tidak hadir. Kita tentu tidak ingin sampai warga mengambil tindakan sendiri karena merasa negara tidak hadir.

Kita tidak ingin masyarakat membentuk persepsi bahwa “Kalau bukan kita yang menjaga diri, siapa lagi?” Di sinilah pemerintah harus hadir. Pemerintah tidak boleh kalah cepat dari pelaku kejahatan. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalan keamanan sendirian.

Bekasi Harus Memilih: Menjadi Kota Aman atau Gotham City?

Saya tidak ingin istilah “Gotham City” hanya menjadi lelucon di tengah masyarakat. Saya justru ingin istilah ini menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Bekasi. Jangan sampai pembangunan kota hanya mengejar wajah metropolitan, tetapi lupa membangun sistem keamanan yang kuat. Jangan sampai kita sibuk mempercantik kota, sementara warga masih bertanya “Apakah aman pulang malam?” “Apakah anak saya aman berangkat sekolah?” “Apakah saya aman berjalan di lingkungan saya sendiri?”

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab pemerintah dengan kebijakan, bukan sekadar narasi. Saya percaya Kota Bekasi mampu menjadi kota metropolitan yang maju sekaligus aman.Tentu saja itu semua membutuhkan keberanian pemerintah untuk menjadikan keamanan sebagai prioritas. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya ketika pembangunan terlihat megah.

Keberhasilan pemerintah adalah ketika seorang ibu tidak lagi khawatir anaknya pulang malam. Ketika orang tua tidak takut anaknya berangkat sekolah. Ketika masyarakat dapat beraktivitas di ruang publik tanpa rasa waswas. Dan ketika setiap warga dapat berkata “Saya tinggal di Bekasi. Saya bangga dengan kotanya, dan saya merasa aman di dalamnya.”

Jangan biarkan Bekasi menjadi Gotham City. Bekasi harus menjadi kota metropolitan yang maju, nyaman, dan aman bagi seluruh warganya.

Oleh : Muhammad Kamil (Anggota DPRD Kota Bekasi)

Example 120x600
Esai

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.

Esai

Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Esai

Beberapa waktu sebelum itu, KPK telah mengamankan Bupati Rejang Lebong (Bengkulu), Muhammad Fikri Thobari, Bupati Pati (Jawa Tengah), Sudewo, Gubernur Riau, Abdul Wahid, Bupati Bekasi, Ade Kuswara, serta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.