Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Esai

Esensi Banjir

×

Esensi Banjir

Sebarkan artikel ini
Imam. Trikarsohadi (Wartawan Senior)

Kamis 22 Januari 2026, Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan deras setidaknya dengan durasi 7 kali sejak pagi hingga menjelang maghrib. Efeknya, banjir dimana – mana. Kompleks perumahan jadi kolam dan jalan berubah tampilan mirip sungai.

Seluruh aktivitas nyaris mati gaya, dan warga yang tajir melintir maupun yang melarat “keciprat,” merasakan derita yang sama; tak berdaya seraya berdoa dan berharap hujan segera berhenti dan air segera surut.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Tentu, ada juga yang mengumpat penguasa yang tak kunjung menemukan cara mengendalikan banjir dari masa ke masa.

Bagi yang agak suka merenung, bisa jadi banjir memantik aneka tafsir. Sebab, jika ia hadir dampaknya mendera siapa saja, tak pandang yang kaya raya maupun hamba sahaya.

Dalam satu sisi yang dalam dan lamat – lamat, banjir seolah mengingatkan ihwal kesetaraan manusia di hadapan alam, bahwa air tidak membedakan status sosial; perumahan elit atau pemukiman sulit sama-sama tergenang, dan menandaskan pentingnya keselarasan dengan alam, bahwa kelebihan manusia dalam merusak lingkungan akan menimbulkan konsekuensi berupa banjir fisik dan mental sebagai pengingat akan kelemahan manusia, serta menjadi cermin introspeksi untuk hidup lebih bijak dan menjaga keseimbangan.

Apa boleh buat, banjir adalah fenomena egaliter yang menyamaratakan semua orang, dari pejabat, konglomerat hingga rakyat, sekaligus sebagai penegasan hukum; duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Secara fisik, banjir merupakan konsekuensi logis dari kerusakan ekologis yang disebabkan keserakahan manusia terhadap alam dan lingkungan, untuk kemudian berbalik menjadi kerugian yang lebih besar.

Sebab itu, sejatinya, bencana banjir merupakan alarm agar manusia segera melakukan introspeksi diri terhadap syahwatnya yang acapkali tidak pernah merasa cukup,sehingga terus merusak alam dan dirinya sendiri.

Ringkasnya, esensi hadirnya banjir adalah ajakan untuk berhenti membenci air,melainkan belajar dari peristiwa tersebut untuk lebih berhati-hati, introspektif, dan hidup selaras dengan alam, bukan merusaknya.

Oleh : Imam Trikarsohadi (Wartawan Senior)

Example 120x600
Esai

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.

Esai

Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Esai

Beberapa waktu sebelum itu, KPK telah mengamankan Bupati Rejang Lebong (Bengkulu), Muhammad Fikri Thobari, Bupati Pati (Jawa Tengah), Sudewo, Gubernur Riau, Abdul Wahid, Bupati Bekasi, Ade Kuswara, serta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.

Esai

Padahal, bencana besar seringkali bukan datang dari serangan luar yang kejam, melainkan dari pembusukan di dalam yang kita biarkan karena kita merasa hal itu terlalu “rendah” untuk diperhatikan.

Esai

Karena itu, pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan banjir dan longsor belakangan ini sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi bumi dan alam. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, dan mungkin kedepan muncul prahara kekeringan.