Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Esai

Jum’atan Ke 1325

×

Jum’atan Ke 1325

Sebarkan artikel ini
Oleh : Imam Trikarsohadi

Seperti diketahui, dalam ajaran Islam disebutkan ada beberapa keutamaan hari Jumat ,antara lain: diciptakannya Nabi Adam AS, dimasukkannya Nabi Adam AS ke dalam surga, diutusnya Nabi Adam AS ke bumi untuk mulai membawa risalah kenabian, diwafatkannya Nabi Adam AS, diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup umat manusia, serta ditetapkannya hari kiamat. Nabi Adam merupakan representasi siklus hidup umat manusia yang ada di bumi hingga saat ini.

Hari Jumat memiliki sejarah termat panjang dalam peradaban manusia. Bahkan, pada zaman jahiliah di negeri Arab, mereka juga mengkhususkan hari Jumat. Tapi mereka merayakannya sebagai hari Al-Arubah, hari menebar kasih sayang.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Namun, pada perkembangannya, hari tersebut dijadikan sebagai hari berbangga dan berpesta memamerkan kesuksesan dan kehebatan mereka. Orang-orang sukses pada zaman itu dari empat golongan, yaitu: kaum pebisnis atau pedagang (At-Tujar), kaum penyair (Asy-Syu’ra), kaum dukun (Al-Kuhan), dan kaum penyihir (Sahir)
Kaum pedagang yang terkaya, kaum dukun yang mereka yakini mujarab membantu melariskan dagangan kaum pedagang, akan disanjung dan dipamerkan. Bentuk sanjungan itu dilakukan dengan mengukir nama-nama mereka pada ka’bah sehingga masyarakat pada saat itu mengetahuinya.

Jika kita menganalogikan, maka aktivitas kaum jahiliah Arab itu seperti tida berbeda dengan apa yang dilakukan sebagain besar manusia zaman sekarang yang hidupnya hanya sibuk bekerja mencari kejayaan dunia di lima hari pertama tiap pekannya. Pada akhir pekan, mereka menghibur diri dengan merayakan kesuksesannya, antara lain dengan berpesta, piknik, ngemall, atau menghabiskan waktu di klub-klub malam.
Tak berhenti di situ, mereka lalu sibuk memamerkan apa yang mereka definisikan sebagai kejayaan dan kebahagiaan itu lewat media sosial.

Begitu terus manusia berkegiatan berulang-ulang, tanpa menyisakan sedikit pun aktivitas yang lebih esensial yang berorientasi pada kepedulian terhadap sesama.
Hingga kemudian, Allah SWT mengutus Rasulullah Muhammad SAW ke bumi membawa risalah untuk memperbaiki gaya hidup umat manusia.

Hari tersebut kemudian diganti menjadi hari Jumat yang sarat dengan nilai-nilai dan aktivitas yang tak hanya fokus pada diri sendiri melainkan juga mempedulikan kondisi sekelilingnya.

Pada hari Jumat terdapat sebuah ibadah yang paling utama, bahkan diperintahkan Allah secara khusus dalam Al-Qur’an surat Al-Jumu’ah (surat ke-62) ayat 9: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Jika kita cermati, setidaknya terdapat tiga hakikat ibadah sholat Jumat yang solutif yang jarang orang pahami. Tiga hakikat sholat Jumat yang solutif tersebut berdasarkan makna katanya, yaitu: hakikat persatuan, hakikat sinergime, dan hakikat kemaslahatan.

Hakikat persatuan, karena Jumat mengandung kata al-jama’u yang berarti datang berkumpul di sebuah majelis. Hakikat sinergisme, karena Jumat juga mengandung makna at-ta’aruf yang berarti saling mengenal. Hakikat kemaslahatan, karena Jumat juga mengandung makna Al-ihtimam yang berarti saling memberi perhatian dan kepedulian.

Poin inilah yang dimaksud dengan Jumat yang solutif, yaitu Jumat harus menjadi saat di mana orang-orang beriman peduli pada masalah-masalah yang dihadapi saudaranya.
Kepedulian itu ditandai dengan saling memberikan bantuan sehingga menjadi solusi atas permasalahan tersebut. Itulah makna Jumat yang solutif.

Ciri orang beriman adalah ketika datang ke majelis salat Jumat bukan sekadar datang, berkumpul, mendengar khotbah, salat Jumat, lalu pulang. Berkumpulnya orang beriman juga berarti ia mengenali dan memperhatikan siapa saja yang ada di samping kanan, kiri, depan, dan belakangnya.

Karenanya, pada zaman Rasulullah, tidak ada orang datang salat Jumat kecuali dikenali siapa dirinya, diketahui apa keperluannya, dan apa kebutuhannya. Jadi, tidak ada orang datang untuk melaksanakan ibadah salat Jumat kecuali selesai urusannya, terpenuhi kebutuhannya, terpecahkan masalahnya.

Jika ketiga hakikat salat Jumat yang solutif ini dilaksanakan, maka akan terwujud persatuan umat, sinergisme, dan kemaslahatan yang didambakan bersama.

Alhamdulillah, pada Jum’at 28 Juli 2023, saya berkesempatan hadir lebih awal di Masjis Al-Muhajirin, Kampung Madani, Kota Bekasi, sehingga lebih dulu sempat melihat situasi sekeliling masjid. Ada mobil ambulance, ada dapur makanan gratis, ada sekolah TK, dan sebagainya di masjid itu.

Sekitar 20 menitan sebelum sholat Jum’at dimulai, pengurus masjid mengumumkan nama imam dan khatib yang bertugas. Diumumkan juga ihwal jumlah pemasukan masjid dari infaq dan sodaqoh para jamaah dan warga sekitar.

Semunya diumumkan secara rinci dan gamblang, sehingga saya berkimpulan bahwa manajemen masjid ini tertata rapih, dan masjid ini berkontrbusi begitu banyak terhadap “kedaruratan” warga Kampung madani.

Hebatnya, DKM Masjid Al-Muhajiri pun mendata dan mengumumkan bahwa Sholat Jumat pada waktu itu adalah untuk yang ke 1.325 kalinya, atau sekitar 11 tahun.

Oleh : Imam Trikarsohadi

Example 120x600
Esai

Oleh : Imam Trikarsohadi Dalam kehidupan kita sehari…