Sedekah sampah, kenapa tidak? Program eco-masjid Baitul Makmur Cikarang


SAMPAH selalu menjadi masalah? Siapa bilang. Bisa saja iya, tetapi bisa tidak. Seperti yang dilakukan di Masjid Baitul Makmur, Cikarang. Di masjid ini, sampah bahkan bisa dijadikan sedekah?

Adalah Ketua DKM Baitul Ma’muur, H. Muhammad Suhapli, yang menyebutkan sudah dalam berapa waktu di masjidnya menerapkan sedekah sampah. Kegiatan ini beranjak dari visi masjid yang mengusung Masjid yang Ramah Lingkungan.

Boks sedekah sampah di Masjid Baitul Makmur Telaga Sakinah.

Maka, sampah di masjid ini dikelala dengan baik. Sesuai jenisnya, sampah diolah dan bahkan bisa bernilai ekonomi. ”Sedekah tidak harus dengan uang atau harta, dengan berbuat baik, bermuka manis atau tersenyum juga sedekah. Bahkan dengan sampah sekalipun kita bisa bersedekah,’ katanya (22/11).

Bahkan, saat ini di masjid disediakan ‘kotak amal sampah’. Kotak yang dibuat indah ini digunakan untuk menampung sampah dari jamaah yang ingin bersedekah. Subhanallah.

Belum lama, masjid ini bahkan kedatangan tim dari Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dalam bidang pemuliaan lingkungan hidup. MUI yang menginisiasi program GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) direspon cepat pengurus masjid.

Maka, warga dan jamaah pun berdatangan dengan membawa sampah berupa plastik dan kertas. Bahkan ada yang membawa rongsokan mesin cuci.

Dalam dua bulan terakhir, masjid bisa mengumpulkan sampai sekitar 1,5 ton dan hasil pengumpulan sampah ini dananya dimasukkan ke masjid. Bisa untuk kegiatan kemasjidan, sosial, tarbiyah atau juga kegiatan lain.

Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (LPLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai bahwa menerapkan konsep eco-masjid atau masjid ramah lingkungan sebagai bagian dari ibadah. Karenanya konsep eco-masjid sebaiknya semakin dikenalkan kepada umat melalui tausiyah.

”Menerapkan konsep masjid ramah lingkungan sebagai bagian dari ibadah muamalah. Banyak hadis dan ayat Alquran yang melarang manusia berbuat berlebihan atau mubazir. Agama juga menyeru manusia untuk menjaga lingkungan,” kata Hayu Susilo Prabowo, Ketua LPLH dan SDA MUI.

Masjid ini juga menjadi tuan rumah dalam Workshop GRADASI yang diikuti berbagai komponen masjid dan pemerhati lingkungan. ”Dari jamaah masjid, mari kita banguun gerakan sedekah sampah Indonesia,” kata H Siswadi, pembina masjid Baitul Makmur.

Menurut Suhapli, di masjid ini menang sudah menerapkan eco-masjid. Dari air wudhu sudah dikelola agar bisa hemat, bahkan airnya diolah agar tidak terbuang percuma.

Konsep ramah lingkungan ini juga sudah mengantarkan masjid mendapatkan pernghargaan dari kementrian lingkungan hidup.

Selain ramah lingkungan, masjid juga ramah warga dan ramah warga disabilitas. Jangan heran, jika di masjid ini ada lift khusus buat penderita disabilitas. ”Kalau jamaah makmur, insyaAllah masjidnya juga akan makmur,” katanya. (chotim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *