Sebanyak 138 mahasiswa Institut Attaqwa KH Noer Alie Bekasi diwisuda di Aula Muzdalifah, Islamic Centre Bekasi, Selasa (8/9/2026). Wisuda terdiri dari program sarjana angkatan ke-26 dan program magister angkatan pertama.
Rektor Institut Attaqwa KH Noer Alie, Saiful Bahri Maih, mengatakan lulusan agama saat ini harus dibekali kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk digitalisasi dan pola dakwah yang kontekstual.
“Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin,” kata Saiful Bahri dikutip bekasiguide.com, Selasa 08 September 2026.
Ia menyebut wisuda kali ini menjadi kebanggaan bagi Bekasi karena lembaga pendidikan di bawah nama pahlawan nasional KH Noer Alie produktif mencetak sarjana.
Sementara orasi ilmiah disampaikan Murniati Mukhlisin. Ia menekankan pentingnya lifelong learning, integritas, inovasi, pembangunan ekonomi inklusif, serta orientasi kehidupan pada falāh.
“Keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang dapat naik, tetapi juga dari berapa banyak orang yang dapat ikut memperoleh manfaat dari keberhasilannya. Jika menjadi pengusaha, keberhasilan dapat diterjemahkan menjadi lapangan kerja,” ujarnya.
Menurutnya, jika menjadi akademisi, keberhasilan harus diwujudkan melalui pengetahuan yang bermanfaat.
Murniati menilai tantangan membangun peradaban digital yang beradab semakin berat. Teknologi akan terus berkembang, AI semakin canggih, sistem keuangan makin digital, pendidikan makin personal, dan otomasi mengambil alih pekerjaan manusia.
“Namun, perubahan teknologi tidak boleh mengubah prinsip mendasar. Amanah tetap harus menjadi amanah. Keadilan tetap menjadi keadilan, kejujuran tetap menjadi kejujuran, kemaslahatan tetap menjadi tujuan, sehingga tidak ada yang batil,” katanya.
Ia menegaskan peradaban unggul bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi kemampuan menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat.
“Kita membutuhkan masyarakat yang cerdas secara teknologi, kuat secara ekonomi, unggul secara akademik, adil secara sosial, berkelanjutan secara lingkungan, dan kokoh secara spiritual. Bukan hanya smart society, tetapi juga wise society,” ucapnya.
Murniati menambahkan, teknologi hanyalah instrumen, manusia yang menentukan arah. Tantangan terbesar generasi saat ini bukan sekadar menguasai teknologi, tetapi memastikan nilai kemanusiaan tidak hilang.
“Peradaban unggul tidak dibangun oleh teknologi semata. Ia dibangun oleh manusia yang mampu menyatukan iman, ilmu, amal, adab, dan inovasi,” katanya.








