Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Esai

Mudik dan Bingkai Masa Lalu

×

Mudik dan Bingkai Masa Lalu

Sebarkan artikel ini
Imam Trikarsohadi (Wartawan Senior)

Bagi kebanyakan orang, peristiwa mudik lebaran, diantaranya bertalian dengan hal ihwal kenangan masa lalu.

Lalu siapa masa lalu?, apakah ia ibarat cerita sinetron yang penuh kejutan yang terkadang tak masuk akal?, atau beban miris sebab aneka macam trauma tempo dulu? atau ia semacam dendam yang telah lama bersemayam dalam hati?, atau mungkin, ia justru jadi pondasi yang menghantar kita bisa hidup seperti saat ini?. Semua bisa terjadi, tergantung cara kita memandang dan menyikapinya.

Scroll Ke Bawah Untuk Melanjutkan
Advertisement

Tapi yang jelas, cara menyikapi masa lalu yang positif adalah memandang peristiwa yang telah terjadi bukan sebagai beban, melainkan sebagai pondasi untuk memahami diri saat ini dan merancang masa depan.

Sebab, masa lalu adalah kumpulan pengalaman yang membentuk karakter dan memberikan pelajaran berharga melalui keberhasilan maupun kegagalan.

Terinspirasi dari mitologi Romawi ihwal masa lalu, filosofi ini menggunakan simbol Dewa Janus yang memiliki dua wajah. Satu wajah menatap ke belakang, yang melambangkan refleksi atas tindakan masa lalu, mengambil hikmah dari apa yang telah dilalui tanpa perlu menyesali secara berlebihan.

Satu wajah lagi menatap ke depan, yang bermakna menggunakan pelajaran tersebut untuk menetapkan tujuan baru dan strategi yang lebih baik di masa depan.

Dalam pandangan praktis, masa lalu sering dianggap sebagai sekolah kehidupan guna mengevaluasi diri. Pengalaman pahit atau kegagalan dipandang sebagai guru yang memberikan nasehat bijak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Masa lalu juga mengajarkan ihwal penerimaan takdir, dimana apa yang telah terjadi tidak dapat diubah (takdir), namun kita memiliki kebebasan untuk memilih bagaimana cara menanggapinya saat ini.

Sebab itu, agar kesehatan mental tetap terjaga, ada baiknya tidak membawa beban masa lalu terlalu jauh; lepaskan dan ikhlaskanlah.

Apa sebab? karena semakin lama kita menyimpan penyesalan atau kenangan buruk, semakin berat langkah kita menuju masa depan, dan itu akan menjadi beban hidup.

Pada hakikatnya masa lalu dan masa depan hanyalah konsep di pikiran; yang nyata adalah momen saat ini untuk menciptakan kenangan baru yang lebih baik.

Sebab itu, posisikan masa lalu sebagai kenangan, karena itu adalah cara kita menghentikan waktu sejenak. Meski waktu berlalu, kenangan tetap hidup dalam hati.

Dalam Islam, masa lalu terutama dosa atau aib harus ditutupi dan tidak boleh diungkit, baik oleh diri sendiri maupun orang lain, jika seseorang sudah bertaubat.

Islam menekankan taubat nasuha, fokus memperbaiki diri (hijrah), dan rahmat Allah yang luas, bukan menghakimi berdasarkan kesalahan masa lalu.

Islam menilai seseorang dari ketaqwaannya sekarang, bukan masa lalunya.

Karenanya, masa lalu dijadikan pelajaran untuk melangkah menuju Allah, bukan untuk meratapi atau terpuruk dalam penyesalan.

Prinsip utamanya adalah siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia yang beruntung.

Oleh : Imam Trikarsohadi (Wartawan Senior)

Example 120x600
Esai

Perpisahan ini menandai transisi dari “kawah candradimuka” Ramadhan menuju ujian kehidupan nyata di bulan-bulan berikutnya.

Esai

Beberapa waktu sebelum itu, KPK telah mengamankan Bupati Rejang Lebong (Bengkulu), Muhammad Fikri Thobari, Bupati Pati (Jawa Tengah), Sudewo, Gubernur Riau, Abdul Wahid, Bupati Bekasi, Ade Kuswara, serta Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko.

Esai

Padahal, bencana besar seringkali bukan datang dari serangan luar yang kejam, melainkan dari pembusukan di dalam yang kita biarkan karena kita merasa hal itu terlalu “rendah” untuk diperhatikan.

Esai

Karena itu, pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan banjir dan longsor belakangan ini sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi bumi dan alam. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, dan mungkin kedepan muncul prahara kekeringan.

Esai

Seluruh aktivitas nyaris mati gaya, dan warga yang tajir melintir maupun yang melarat “keciprat,” merasakan derita yang sama; tak berdaya seraya berdoa dan berharap hujan segera