Anggota Komisi III DPRD Kota Bekasi, Muhammad Kamil Syaikhu, menegaskan persoalan infrastruktur dan banjir masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi secara menyeluruh oleh Pemerintah Kota Bekasi.
Menurutnya, perbaikan jalan dan drainase tidak bisa lagi dilakukan secara parsial. Sebab, genangan air yang kerap terjadi di sejumlah titik, khususnya di wilayah Bekasi Utara, menyebabkan jalan cepat rusak dan kembali berlubang.
“Infrastruktur tentu jadi prioritas. Di Bekasi Utara ini masih banyak banjir. Jalan yang sudah diperbaiki pun kembali bolong karena tergenang air,” ujarnya usai Reses I 2026 di RW.10 Harapan Jaya Bekasi Utara dikutip bekasiguide.com, Minggu 15 Februari 2026.
Kamil menilai akar persoalan terletak pada belum adanya penataan yang terintegrasi. Ia mendorong agar pemerintah segera meluncurkan grand design tata ruang dan tata kota yang jelas, sehingga pembangunan tidak dilakukan sepotong-sepotong.
“Harus ada grand design tata ruang Kota Bekasi. Jangan sampai kita benahi satu wilayah, tapi wilayah lainnya justru kebanjiran. Semua harus dirancang menyeluruh, mulai dari fungsi wilayah sampai sistem salurannya,” tegas legislator muda PKS Kota Bekasi.
Ia menjelaskan, perencanaan yang matang akan membantu menentukan peruntukan kawasan, posisi saluran air, hingga penataan badan jalan dan pedestrian. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, menurutnya, persoalan banjir akan terus berulang.
Selain infrastruktur dan tata ruang, Kamil juga menyinggung pentingnya pengelolaan sampah sebagai bagian dari solusi jangka panjang. Ia menyebutkan, rancangan peraturan daerah (Perda) tentang pengelolaan sampah telah dibahas dan tinggal menunggu pengesahan.
“Perda sampah sudah kita bahas dan tinggal diketok palu. Harapannya, setelah itu penanganan sampah bisa lebih maksimal,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah dari hulu, yakni mulai dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan RT dan RW. Dengan pemilahan sejak awal, volume sampah yang dikirim ke TPA dapat ditekan dan tidak semakin membebani sistem pengelolaan kota.
“Kalau dari rumah tangga sudah dipilah, beban sampah yang dibuang bisa berkurang. Ini juga bagian dari penataan kota yang lebih baik,” tambahnya.
Kamil mengakui pembenahan infrastruktur dan tata kota bukan pekerjaan instan. Namun, ia menegaskan langkah tersebut harus segera dimulai agar persoalan banjir, jalan rusak, dan tata kota yang semrawut tidak terus berulang setiap tahun.
“Memang ini pekerjaan panjang dan tidak bisa selesai dalam waktu singkat. Tapi kalau tidak segera dirancang dan dikerjakan, persoalan ini akan terus terjadi,” tandasnya.








